Rabu, 09 Mei 2012

Skripsi PTK Bab I - III


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah
     Sepakbola merupakan salah satu olahraga permainan yang sudah dimainkan sejak lama di berbagai Negara, meskipun menggunakan istilah yang berbeda. Semua permainan itu memiliki tujuan yang sama, yaitu permainan yang dimainkan oleh dua tim dan pemain dari tiap tim berusaha memainkan bola dan menjaga bola agar tidak direbut oleh tim lawan dan berusaha memasukan bola ke dalam jaring atau gawang lawan. Seperti yang dikemukakan dalam www.untukku.com yaitu: 
… Di negeri Cina. Kala itu, dinasti Han melatih tentara menggunakan “tsu-chu” untuk latihan fisiknya, yaitu latihan menendang bola kulit memasukkan ke dalam jaring kecil yang diikatkan pada batang-batang bambu panjang …”, selain di Cina permainan sepak bola telah dimainkan juga di Jepang yang bernama Kemari, meskipun tidak kompetitif seperti di Cina. Yunani dengan “episkyros”, Romawi (Italia) dengan “haspartum”, dan Perancis dengan “choule”.

     Sepakbola adalah permainan invasi yaitu permainan yang memperbolehkan setiap pemain dalam sebuah tim atau regu yang bertanding menyerang memasuki daerah pertahanan lawan, dan setiap pemain dalam sebuah tim berusaha memasukan bola ke gawang lawannya untuk membuat gol atau skor, serta menjaga gawangnya dari serangan lawan. Gol dihitung jika bola seluruhnya telah melewati garis gawang. Seiap pemain berusaha memasukan bola dengan cara melakukan operan (passing), menggiring (dribbling), menembak (shooting). Selain cara – cara tersebut, ada cara lain yang bisa dilakukan oleh para pemain yang tidak membawa bola, seperti bergerak mencari ruang kosong, membantu dan melindungi pemain yang sedang membawa bola. Dan pemain dari tim lawan yang tidak menguasai bola berusaha untuk merebut bola dari pemain lawan dengan cara melakukan adu tubuh (body charge), taklikng, membayangi pemain lawan yang tidak membawa bola, menutup ruang kosong, dan menutup ruang tembak ke arah gawang.
     Pada permainan sepakbola modern dan kompetitif, permainan ini dimainkan selama 90 menit yang dibagi kedalam dua babak. Tiap babak dimainkan selama 45 menit dan jika tim yang mencetak gol lebih banyak dari tim lainnya dalam kurun waktu 90 menit tersebut adalah pemenang permainan ini, jika keadaan masih imbang (draw) diadakan babak tambahan waktu selama 2 x 15 menit, dan bila kedudukan masih imbang maka diadakan adu penalty. Permainan sepak bola dimainkan oleh 22 orang pemain yang dibagi kedalam 2 tim, setiap tim terdiri dari 11 orang,  yang diantaranya adalah 1 orang penjaga gawang (goal keeper), 4 pemain belakang (defender), 4 gelandang  (miedfielder), dan 2 orang penyerang (striker). Namun jika permainan ini dimainkan  untuk olah raga rekreasi, jumlah pemain bisa disesuaikan, contoh bisa dimainkan dengan 8 orang pemain, 6 orang pemain bahkan dengan 4 orang pemain, olahraga permainan sepakbola  bisa dimankan.
     Sepakbola merupakan olahraga yang sangat digemari di seluruh dunia, terbukti dari data siswa di akademi La Masia milik klub sepakbola Barcelona Spanyol, yang diminati oleh setiap anak di seluruh dunia, yang dikutip dari http://www.kaskus.us/showthread yaitu :
     La Masia menjadi salah satu kamp paling elite bagi bakat-bakat super dari seluruh dunia. Dalam 30 tahun, sebanyak 450 pemain bola muda memancangkan mimpinya di bangunan dengan luas 610 meter persegi tersebut. Dari jumlah itu, sebanyak 40 pemain menjadi pemain utama Barcelona…
     Bukan hanya menjadi pemain sepakbola saja, banyak orang yang menggemari pertandingan sepakbola, dengan menjadi penonton ini terbukti dari data penonton sepakbola  yang ada di liga jerman, yang dikutip dari http://www.sepaxbola.info  menyatakan bahwa: “Liga yang stadionnya paling ramai adalah Bundesliga. Pada tahun 1960an hingga 1980an, rata-rata jumlah kehadiran penonton di stadion klub-klub Jerman berkisar antara 5-7 juta orang per musim.”.Dari sumber tersebut di atas, dapat dilihat bahwa antusiasme masyarakat dunia terhadap sepakbola sangat tinggi. Begitu juga masyarakat Indonesia sangat menggemari olahrga permainan ini, terlihat dari banyaknya jumlah klub dan pemain yang berkiprah di Liga Indonesia yang berada di bawah naungan Persatuan Sepakbola Seluruh indonesia (PSSI), yang dikutip dari http://sepakbola.showbiznotes.net/daftar-tim-klub-peserta-indonesia-super-league-isl-20102011/:
     Arema Indonesia jumlah pemain 23 orang, Persipura Jayapura 24 orang, Persiba Balikpapan 22 orang, Persib Bandung jumlah pemain 24 orang,Persija Jakarta 25 orang, Persiwa Wamena 23 orang, PSPS Pekanbaru 23 orang, Sriwijaya FC 24 orang, Persijap Jepara 25 orang, Persema Malang 23 orang, Bontang FC 24 orang, Persisam Samarinda 23 orang, PSM Makassar 22 orang, Persela Lamongan 23 orang, Pelita Jaya Karawang 24 orang, Persibo Bojonegoro 23 orang, Semen Padang 23 orang, Deltras Sidoarjo 24 orang
     Dari sumber di atas, menunjukan bahwa sepakbola digemari di Indonesia. Tidak hanya pada liga professional saja, bahkan permainan sepakbola dimainkan sampai ke pelosok – pelosok daerah di Indonesia, yang lebih populer dengan istilah antar kampung (Tarkam). Tidak hanya menjadi pemain,  banyak orang yang berbondong - bondong menyaksikan pertandingan sepakbola di stadion sepakbola di seluruh Indonesia ini dapat dibuktikan dengan data penonton yang dikutip dari http://www.sepaxbola.info  yaitu: “…Dari evaluasi jumlah penonton ISL 2009/10, rata-rata jumlah penonton tertinggi adalah Persija (22.908 orang), diikuti Arema (21.724) dan Persipura (20.068)…”. Dari data  tersebut bisa dilihat antusiasme masyarakat di Indonesia terhadap sepak bola tidak kalah dibandingkan dengan masyarakat di luar Indonesia. kita dapat melihat permainan ini dimainkan oleh berbagai macam orang,  seperti yang diutarakan oleh Sucipto (1999/200:7) yakni “ Sepakbola berkembang dengan pesat dikalangan masyarakat, karena permainan ini dapat dimainkan oleh laki – laki dan perempuan, anak – anak, dewasa dan orang tua”. Sepakbola bisa  dimainkan di berbagai tempat. Mulai dari sekitar rumah, di tingkat sekolah, jalanan, hingga yang dimainkan secara professional.
     Di lingkungan persekolahan, permainan sepakbola termasuk salah satu ruang lingkup materi aktivitas pembelajaran permainan dan olahraga, dalam materi pelajaran Pendidikan Jasmani Kesehatan Olahraga dan Rekreasi (Penjasorkes), yang sudah tertera dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) tahun 2006, yang telah dirumuskan dalam standar kompetensi sebagai berikut: “Melakukan teknik dan taktik berbagai permainan dan olahraga didasari konsep yang benar dan memiliki nilai – nilai yang terkandung didalamnya”. Dan sudah dijabarkan dalam tujuan pembelajaran yang terdapat pada kompetensi dasar dan indicator aktivitas pembelajaran permainan olahraga ksususnya dalam aktivitas permainan sepakbola, pada tingkat satuan Pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) kelas XI (sebelas) sebagai berikut:
Kompetensi dasar:
Mengintregrasikan teknik salah satu nomor olahgraga beregu mengunakan bola besar (sepakbola, bolavoli, bola basket) dengan baik, tepat dan lancar.
Indikator
1. Menggunakan berbagai bentuk formasi, bentuk strategi dalam permainan sepak bola.
2. Mempraktikan teknik passing, shooting dan dribbling.

     Melalui aktivitas pembelajaran olahraga permainan sepakbola ini, potensi – potensi pendidikan  yang ada pada siswa diharapkan dapat tumbuh berkembang secara optimal, baik potensi dalam dimensi kognitif, afektif, maupun psikomotor. Dimensi kognitif yang berpeluang besar untuk ditumbuh kembangkan melalui aktifitas permainan sepakbola sepertimemperhitungkan arah datangnya bola, mengukur seberapa kuatnya operan yang akan diberikan kepada kawan dan  mengukur berapa kuatnya tendangan ke gawang lawan agar masuk ke gawang. Bukan hanya dimensi kognitif saja yang terkembangkan didalam permainan sepakbola, dimensi  afektif dan psikomotor pun dapat  tumbuh berkembang dengan cara bekerja sama, bertanggung jawab, disiplin, saling menghargai, sportivitas, mencari ruang dalam permainan, ketepatan dalam memberikan umpan, kebugaran jasmani, dll.
     Namun didalam kenyataan di lapangan aktifitas pembelajaran permainan sepakbola kebanyakan terbalik, dari aktivitas pembelajaran permainan olahraga sepakbola menjadi pelatihan cabang olahraga, yang menekankan seorang siswa untuk mengoptimalkan kemampuan geraknya  dengan menggunakan metode latihan yang disesuaikan. Guru mata pelajaran penjasorkes cenderung memberikan siswa pelatihan sepakbola gerakan passing, misalnya passing menggunakan kaki bagian dalam dan siswa diperintahkan untuk melakukan pengulangan sampai menguasai gerakan passing tersebut. Seharusnya seorang guru penjasorkes memberikan aktivitas pembelajaran permainan sepakbola, yang bukan hanya mengembangkan aspek psikomotornya lewat gerakan passing saja, tapi juga dituntut harus mengembangkan aspek kognitif, dan afektifnya lewat aktifitas pembelajaran permainan sepakbola. Dengan cara mengajarkan siswa untuk mengeluarkan kreatifitasnya dalam proses pengambilan keputusan, untuk membantu siswa mengetahui potensi yang dimilikinya, untuk bekerja sama dengan rekan setimnya dalam aktivitas pembelajaran permainan sepakbola, memperkaya kemampuan gerak siswa, membentuk sikap yang tepat terhadap nilai yang terdapat dalam aktivitas pembelajaran permainan sepakbola, belajar bertanggung jawab, memberikan pertolongan, meningkatkan kesehatan atau kesegaran jasmani.
     Di dalam aktivitas pembelajaran permainan sepakbola seorang guru harus bisa mengarahkan siswanya untuk bebas dan kreatif dalam mempelajari suatu pembelajaran permainan olahraga namun tetap dalam pengawasan guru. Untuk mengakomadisi kreatifitas dan kebebasan siswa dalam mengikuti aktivitas pembelajaran permainan sepakbola, seorang guru penjasorkes bisa menggunkan metode, model dan gaya mengajar yang sesuai, agar semua potensi siswa dapat berkembang.   
     Di dalam aktivitas pembelajaran yang diberikan oleh masing – masing guru mata pelajaran, memiliki metode, model dan mengajar yang berbeda – beda. Dan tugas guru adalah memilih metode, model dan gaya mengajar yang tepat agar materi yang diberikan dapat tersampaikan. Beberapa metode, model dan gaya mengajar, yang sering dipergunakan oleh seorang guru diantaranya adalah pemrosesan informasi, gaya mengajar komando, divergen, pembelajaran kooperatif dsb. Itulah beberapa metode, gaya dan strategi yang bias dipergunakan oleh seorang guru, khususunya guru penjas. Dalam pembelajaran penjas seorang guru di tuntut kreatifitasnya untuk menggunakan gaya, metode dan strategi mengajar yang tepat, sehingga antusias siswa dalam pembelajaran cukup tinggi.

B.     Identifikasi Masalah
Berdasarkan Latar belakang permasalahan, dapat diidentifikasi terkait dengan aktivitas pembelajaran permainan sepakbola dalam mata pelajaran Penjaskes di SMAN 1 Pangalengan adalah sebagai berikut:
1.      Guru belum memahami antara aktivitas pembelajaran permainan sepak bola dengan pelatihan cabang olahraga sepakbola
2.      Guru Penjaskes cenderung memberikan aktivitas pelatihan cabang olahraga sepakbola, bukan memberikan aktifitas pembelajaran permainan sepak bola.
3.    Masih jarang guru Penjaskes yang menerapkan  gaya mengajar divergen dalam aktivitas pembelajaran permainan sepak bola.
4.               Siswa kurang kreatif dalam memberikan jawaban pada suatu permasalahan
5.               Siswa cenderung pasif  dan menunggu jawaban yang diberikan oleh guru
6.               Siswa terlalu bergantung kepada intruski guru dalam pembelajaran.
7.               Kurangnya kesempatan gerak yang didapat siswa karena lama menunggu giliran.
C.    Batasan  Masalah
Untuk mempermudah masalah yang diteliti, maka batasan permasalahan dalam penelitian ini adalah: penerapan gaya mengajar divergen dalam pembelajaran aktivitas permainan sepak bola di SMA Negeri 1 Pangalengan.
D.    Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah dan batasan masalah di atas, maka penulis  merumuskan masalah penelitian sebagai berikut: Bagaimana penerapan gaya mengajar divergen dalam pembelajaran aktivitas permainan sepakbola?
 E.     Tujuan Penelitian
Adapun yang dijadikan tujuan penelitian oleh penulis adalah sebagai berikut:
1.      Ingin mengetahui penggunaan gaya mengajar divergen dalam pembelajaran aktivitas permainan sepakbola SMA Negeri 1 Pangalengan 
2.      Ingin mengetahui bagaimana siswa memberikan respon terhadap gaya mengajar divergen yang dipergunakan oleh guru .
3.      Ingin mengetahui aplikasi dari gaya mengajar Divergen .

D.                Kegunaan penelitian
Dengan mengetahui pengaruh gaya mengajar divergen terhadap pembelajaran permainan sepakbola di SMAN 1 Pangalengan Kecamatan Pangalengan Kabupaten Bandung diharapkn memberikan kegunaan, kepada:
1.   Teoritis
a.       Penelitian ini dapat memberikan sumbangan informasi mengenai berbagai metode dan gaya mengajar yang ada dan dapat dipergunakan untuk mengembangkan potensi siswa dalam pembelajaran Penjaskes.
b.      Untuk menerapkan gaya mengajar divergen dalam pembelajaran aktivitas permainan sepakbola, sehingga langkah – langkah yang akan dilakukan dapat dipergunakan oleh guru Penjas
2.   Praktis.
            Agar gaya mengajar divergen dapat dipergunakan oleh guru  Penjas, sehingga dapat memperbanyak gaya mengajar yang dimiliki.



BAB II
TINJAUAN TEORITIS, KERANGKA BERFIKIR
 DAN HIPOTESIS TINDAKAN

A.    TINJAUAN TEORITIS
1.      Hakikat Pembelajaran Aktivitas Permainan Sepakbola
Seperti yang telah diungkapkan pada Bab sebelumnya, permainan sepakbola merupakan salah satu permainan olahraga bola besar yang digunakan sebagai media atau alat dalam aktifitas pembelajaran Penjas. Keberadaan permainan sepakbola sebagai media atau alat aktifitas pembelajaran penjas ini, sudah secara eksplisit tersurat di dalam KTSP 2006, untuk satuan pendidikan SMA. Dengan demikian sekolah (guru dan siswa) wajib melaksanakan pembelajaran aktifitas permainan sepakbola dalam konteks Pendidikan Jasmani.
 Menurut Rusman (2011:3): “Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan guru dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar”. Dari uraian tersebut dapat dijelaskan bahwa, yang dimaksud proses interaksi adalah proses terjadinya hubungan – hubungan sosial antara peserta didik dengan guru maupun sumber dan lingkungan pembelajaran lainnya di dalam kegiatan pembelajaran, misalnya bertanya kepada guru, menjawab pertanyaan dari guru, dan berdiskusi dengan rekan di dalam pembelajaran. Sumber belajar adalah segala daya yang dapat dimanfaatkan guna memberikan kemudahan kepada seseorang dalam belajarnya.  Sumber belajar dalam pembelajaran bisa didapat dari guru, buku, video – video  pembelajaran Penjas dari internet, gambar – gambar kegiatan pembelajaran, peralatan yang dipergunakan, melihat pertandingan sepakbola di televisi atau di lingkungan sekitar serta media cetak seperti koran dan majalah. Lingkungan belajar adalah tempat terjadinya kegiatan belajar dan pembelajaran, Penjas seperti lapangan sepakbola, lapangan bola voli, lapangan basket dan lain – lain.
Menurut Undang – Undang RI nomor 14 tahun 2005, guru adalah “Pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.”. Dari uraian tersebut dijelaskan tugas utama seorang guru yaitu mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik sehingga bisa menjadi manusia seutuhnya.
Menurut UNESCO yang dikutip oleh Aunurrahman (2011:6) bahwa dalam pembelajaran di setiap jenjang dan satuan pendidikan, guru harus mengarahkan peserta didik kepada hakikat pendidikan yaitu 1. Learning to know, 2. Learning to do, 3. Learning to live together,, learnign to live with others, 4. Learning to be.
 Selanjutnya menurut Aunurrahman (2011:6) yang dimaksud dengan learning to know adalah upaya untuk memahami instrumen - instrumen  pengetahuan baik sebagai alat maupun sebagai tujuan. Learning to do adalah  ...bagaimana mengajarkan anak – anak untuk mempraktikan segala sesuatu yang telah dipelajarinya dan dapat mengadaptasikan  pengetahuan – pengetahuan yang telah diperolehnya ... Learning to live together, lerning to live with others adalah mengajarkan, melatih,dan membimbing peserta didik agar mereka dapat menciptakan hubungan melalui komunikasi yang baik, menjauhi prasangka – prasangka buruk terhadap orang lain serta menjauhi dan menghindari terjadinya perselisihan dan konflik. Sementara yang dimaksud dengan learning to be adalah bahwa:
...Pendidikan hendaklah mampu memberikan kontribusi untuk perkembangan seutuhnya setiap orang, jiwa dan raga, intelegensi, kepekaan, rasa etika, tanggung jawab pribadi serta nilai – nilai spiritual. Semua manusia hendaklah diberdayakan untuk berfikir mandiri dan kritis dan mampu membuat keputusan sendiri dalam rangka menentukan sesuatu yang diyakini yang harus dilaksanakan

Konsep – konsep tersebut sama dengan tujuan pembelajaran Penjas. Menurut Lutan (2007:5.18) menyatakan bahwa “Pendidikan Jasmani adalah bagian integral dari pendidikan melalui aktivitas jasmani yang bertujuan untuk meningkatkan individu secara organik, neuromuskular, intelektual dan emosional.” Pernyataan yang sama diutarakan oleh Bucher yang dikutip oleh Aan S (2011) dalam bahwa “Pendidikan Jasmani adalah bagian yang terpadu dari proses pendidikan yang menyeluruh, bidang dan sasaran yang diusahakan adalah perkembangan jasmaniah, mental, emosional dan sosial bagi warga negara, sehat melalui medium kegiatan jasmaniah.” Dua pernyataan tersebut menunjukan bahwa  Penjas adalah bagian penting dalam pendidikan seperti yang tertulis dalam PERMENDIKNAS no 22 tahun 2006 yaitu:
Penjas merupakan bagian integral dari pendidikan  secara keseluruhan, bertujuan untuk mengembangkan aspek kebugaran jasmani, keterampilan gerak, keterampilan berfikir kritis, keterampilan sosial, penalaran, stabilitas emosional, tindakan moral, aspek pola hidup sehat dan pengenalan lingkungan bersih melalui aktivitas jasmani , olahraga dan kesehatan.

Dari penjelasan di atas, disebutkan Penjas bertujuan untuk mengembangkan aspek kebugaran jasmani, keterampilan berfikir kritis, keterampilan sosial dll. Lebih lanjut tujuan Penjas dijelaskan dalam PERMENDIKNAS no 22 tahun 2006 yaitu:
1.      Mengembangkan keterampilan pengelolaan diri dalam upaya pengembangan dan pemeliharaan kebugaran jasmani serta pola hidup sehat melalui berbagai aktifitas jasmani dan olahraga terpilih.
2.      Meningkatkan pertumbuhan fisik dan pengembangan psikis yang lebih baik
3.      Meningkatkan kemampuan dan keterampilan gerak dasar
4.      Meletakkan landasan karakter moral yang kuat melalui internalisasi nilai – nilai yang terkandung di dalam pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan
5.      Mengembangkan sikap sportif, jujur disiplin, bertanggung jawab, kerjasama, percaya diri dan demokratis
6.      Mengembangkan keterampilan untuk menjaga keselamatan diri sendiri, orang lain dan lingkungan
7.      Memahami konsep aktifitas jasmani dan olahraga di lingkungan yang bersih sebagai informasi untuk mencapai pertumbuhan fisik yang sempurna, pola hidup sehat dan kebugaran, terempil, serta memiliki sikap yang positif

Berdasar pada konsep dasar arah pendidikan yang dikemukakan oleh UNESCO dan konsep dasar tujuan Penjas, maka dapat disintesiskan bahwa konsep dan tujuan Penjas memiliki kesamaan – kesamaan dengan arah pendidikan yang dikemukakan oleh UNESCO. Kesamaan – kesamaan tersebut, dapat dianalisis sbb:
Pertama, salah satu tujuan Penjas, adalah agar siswa memiliki pengetahuan tentang konsep – konsep dasar aktivitas jasmani, yang dapat berguna bagi kemaslahatan hidupnya. misalnya siswa dapat memahami  konsep aktivitas jasmani yang benar, mengetahui cara hidup di lingkungan yang bersih sebagai informasi untuk mencapai pertumbuhan fisik yang sempurna, memahami  pola hidup sehat, mengetahui cara mengembangkan dan memelihara kebugaran jasmani dan serta pola hidup sehat melalui berbagai aktifitas jasmani dan olahraga terpilih, dan mengetahui sikap sportif, jujur disiplin, bertanggung jawab, kerjasama, percaya diri dan demokratis. Semua itu merupakan  ciri – ciri dari konsep learning to know.
 Kedua, bahwa tujuan Penjas adalah agar siswa bisa melakukan berbagai aktifitas jasmani dan olahraga terpilih, menerapkan sikap sportif, jujur disiplin, bertanggung jawab, kerjasama, percaya diri dan demokratis dan menerapkan konsep aktifitas Pendidikan jasmani dan olahraga untuk mencapai pertumbuhan fisik yang sempurna, pola hidup sehat dan kebugaran, terampil, serta memiliki sikap yang positif. Dalam praktik pembelajaran Penjas, semua nilai – nilai tersebut diterapkan dalam kegiatan pembelajaran, sehingga semua nilai – nilai tersebut dapat diterapkan di lingkungan dimana siswa tersebut hidup sepanjang hayatnya. Semua hal tersebut menggambarkan ciri – ciri dari konsep yang mengarah pada learning to do.
Ketiga, Penjas bertujuan agar siswa dapat mengembangkan kerja sama, menghargai orang lain, mempercayai orang lain, saling membantu, memberikan motivasi untuk diri sendiri dan orang lain, mengembangkan keterampilan untuk menjaga keselamatan diri sendiri, orang lain dan lingkungan. Semua hal tersebut menggambarkan ciri – ciri dari konsep yang mengarah pada learning to live together, learning to live with others.
Keempat, Penjas adalah pendidikan yang utuh, melibatkan seluruh dimensi manusia, yaitu dimensi kognitif, afektif dan psikomotor. Tercermin dalam 7 tujuan Penjas yang tercantum pada PERMENDIKNAS no 22 tahun 2006, yang sudah dibahas pada paragraph sebelumnya.  Penjas juga memiliki tujuan untuk membentuk siswa menjadi pribadi yang memiliki karakteristik moral yang kuat melalui internalisasi nilai – nilai yang terkandung di dalam pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan. Seperti memiliki sikap sportif, fair play, jujur, disiplin, bertanggung jawab, percaya diri. Mengembangkan keterampilan pengelolaan diri dalam bentuk meningkatkan keterampilan gerak dasar, pertumbuhan fisik yang sempurna, terbiasa melakukan pola hidup sehat, dalam upaya pengembangan dan pemeliharaan kebugaran jasmani, melalui berbagai aktifitas jasmani dan olahraga terpilih. Semua hal tersebut menggambarkan ciri – ciri dari konsep yang mengarah pada learning to be.
Merujuk pada analisis di atas, maka semua praktik pembelajaran penjas dalam semua akifitas pembelajaran harus diarahkan pada konsep arah pendidikan tersebut. Termasuk dalam pelaksanaan pembelajaran aktifitas permainan sepakbola. Pada pembelajaran aktifitas permainan sepakbola pilar pendidikan menurut UNESCO tersebut diterapkan di dalam pembelajaran aktifitas permainan sepakbola dan dapat dianalisis sebagai berikut:
Pertama, guru memberikan penjelasan dan pemahaman tentang konsep – konsep dasar bermain sepak bola, baik yang berkaitan dengan  teknik dan taktik, selain itu guru juga memberikan informasi tentang nilai – nilai pendiidkan yang terkandung di dalam pembelajaran aktivitas permainan sepak bola. Seperti dalam melakukan tendangan, siswa bukan di ajarkan untuk menendangan, tapi diajarkan cara – cara melakukan tendangan dan diajarkan untuk membiasakan diri mengukur berapa tenaga yang diperlukan untuk melakukan tendangan tersebut.
Dalam Pembelajaran aktivitas permainan sepakbola, selain di ajarkan cara – cara menendang bola, juga diberikan pengetahuan tentang cara – cara mengoper bola, sehingga siswa dapat pengetahuan tentang dasar – dasar dalam pembelajaran aktivitas permainan sepakbola. Selanjutnya dalam menggiring bola, siswa dibiasakan berfikir cara – cara  melakukan trik – trik menggiring bola, memilih, dan menentukan pergerakan sebelum bola datang. Membiasakan siswa untuk mengamati karakteristik perubahan arah, ketinggian, dan kecepatan jatuhnya bola. Sehingga dapat menentukan posisi yang tepat pada saat bola jatuh.  Lalu guru harus membiasakan siswa untuk menggunakan kreatifitasnya dalam melakukan operan, melakukan pergerakan untuk mengecoh lawan dan pemahaman akan taktik permainan agar siswa memahami apa yang harus dilakukan di dalam pembelajaran.
Selain hal – hal tersebut di atas, secara tidak langsung siswa diajarkan untuk menjaga kesehatannya, dengan membersihan tubuhnya setelah pembelajaran, sehingga terhindar dari penyakit seperti biang keringat. Selain itu di dalam pembelajaran aktivitas permainan sepabola, siswa akan memahami sikap sportif seperti, bagaimana caranya mengakui kekalahan, bagaimana cara memberikan selamat kepada lawan bermain yang memenangi permainan dan memahami pentingnya bermain jujur. Lalu siswa juga akan mengetahui bagaimana cara bekerjasama, seperti bagaimana membuka ruang agar teman dapat mengoper bola, bagaimana seorang siswa melakukan operan kepada teman yang lebih siap dan menutup pergerakan lawan. Ciri – ciri tersebut merupakan pembelajaran aktivitas permainan sepakbola yang dilandasi oleh pilar pendidikan menurut UNESCO yaitu learning to know.
.
Kedua, di dalam pembelajaran aktivitas permainan sepakbola siswa diajarkan melakukan tendangan yang akurat, melakukan pergerakan sebelum bola datang, memberikan umpan  yang akurat di terapkan oleh guru kepada siswa memenuhi keinginan untuk bergerak, membuka ruang dalam permainan, memiliki keyakinan gerak dan perasaan sikap, memperkaya kemampuan gerak, Selanjutnya dalam menggiring bola, siswa melakukan teknik - teknik menggiring bola, memilih, dan menentukan pergerakan sebelum bola datang, menentukan posisi yang tepat pada saat bola jatuh, disiplin dalam menjaga daerah pertahanan sendiri, berlari kembali ke posisi awal saat bertahan, menjaga pemain lawan.
Selain itu diutarakan oleh Bucher (1964) yang dikutip oleh Lutan melalui pembelajaran aktifitas permainan sepak bola banyak keuntungan biologis yang dapat diraih seperti:
a.       Pengaruh gerak terhadap kesehatan umum dan otot jantung
b.      Pengaruh terhadap volume darah per denyut jantung
c.       Pengaruh terhadap frekuansi denyut nadi
d.      Pengaruh terhadap darah
e.       Pengaruh terhadap tekanan darah arteri
f.       Pengaruh terhadap butir – butir darah merah
g.      Pengaruh terhadap pernafasan
h.      Pengarah terhadap otot

     Dari uraian di atas, bahwa dengan  pembelajaran aktifitas permainan sepak bola, setidaknya dapat mendekati sehat paripurna yang dirumuskan oleh World Health Organization (WHO). Dalam pembelajaran aktivitas permainan sepak bola, olah raga  permainan dipergunakan sebagai alat untuk mencapai tujuan – tujuan pendidikan yang terdapat di dalam permainan sepakbola khususnya. Oleh karena itu diperlukan kreatifitas yang tinggi dari sorang guru penjaskes untuk membuat berbagai bentuk aktivitas gerak, agar dalam pembelajaran aktivitas permainan sepakbola tidak masuk menjadi aktivitas pelatihan olah raga, karena kebanyakan guru Penjasorkes cenderung hanya mengembangkan aspek dimensi psikomotornya seperti melatih teknik passing, dribling dan shooting saja tanpa memperhatikan aspek dimensi lainnya. Seperti pada penguasaan teknik menendang didalam pembelajaran aktifitas permainan sepakbola, ada siswa yang kurang bisa melakukan tendangan dan akan malas dalam melakukan pembelajaran disini seorang guru penjas yang berorientasi pada pelatihan, akan memaksa siswa tersebut untuk melakukan teknik menendang seperti yang dicontohkan, seharusnya seorang siswa diberikan kebebasan untuk melakukan cara menendang menurut dirinya sendiri dengan bimbingan dan arahan dari guru.
 Lalu guru harus membiasakan siswa untuk mengakui kekalahan dengan cara memberikan selamat kepada lawan bermain yang memenangi pertandingan dalam pembelajaran. Aspek psikomotor ini dapat diterapkan terhadap siswa dengan cara, menerapkan peraturan dan norma – norma dalam pembelajaran aktivitas permainan sepakbola. Ini merupakan ciri – ciri pembelajaran aktivitas permainan sepakbola yang mengarah pada konsep learning to do.
Ketiga, di dalam pembelajaran aktivitas permainan sepakbola, siswa diajarkan untuk saling membantu, karena pada dasarnya permainan sepakbola bukanlah permainan perseorangan tapi permainan beregu. Seperti yang diutarakan oleh Sucipto (1991:7) bahwa” sepakbola merupakan permainan beregu, masing – masing regu terdiri dari 11 pemain dan salah satunya adalah penjaga gawang,” dari uraian tersebut disebutkan permainan beregu yang dimaksud permainan beregu adalah permainan yang dilakukan oleh sekelompok orang. Pembelajaran aktivitas permainan sepakbola yang merupakan kegiatan pembelajaran  beregu ini, siswa diajarkan untuk bekerja sama, menghargai keputusan teman satu tim , mepercayai teman seperti jika terjadi tendangan penalty semua pemain harus mempercayai kepada orang yang melakukan tendangan, atau sebaliknya percaya pada penjaga gawang. Saling membantu dalam menjaga pertahanan dan juga membantu dalam penyerangan, saling memberikan motivasi kepada rekan bila melakukan gol bunuh diri, atau memberikan motivasi jika timnya kalah Sikap – sikap tersebut harus dilandasi oleh sikap saling menghargai sehingga bisa menjauhkan siswa dari perselisihan dan konflik. Ini merupakan ciri – ciri pembelajaran aktivitas permainan sepakbola yang mengarah pada konsep Konsep learning to live together, lerning to live with
Keempat, pembelajaran aktivitas permainan sepakbola merupakan alat atau media yang dipergunakan untuk mencapai tujuan – tujuan penjas. Guru harus mengarahkan siswa dalam pembelajaran, memberdayakan dirinya melalui aspek – aspek yang terdapat dalam kegiatan pembelajaran aktifitas permainan sepakbola untuk menjadi diri sendiri. Seperti belajar menemukan posisi dalam permainan yang akan di tempati, lalu mencari cara bermain pada posisi tersebut. Sehingga pada saat siswa terjun di lingkungan masyarakat, siswa terbiasa untuk menempatkan dirinya sebagai anggota masyarakat. Ini merupakan ciri – ciri pembelajaran aktivitas permainan sepakbola yang mengarah pada konsep learning to be.
Cara – cara  memainkan bola dalam permainan sepakbola, tidak memiliki standar teknik baku yang tetap, karena permainan sepakbola termasuk dalam kategori klasifikasi keterampilan terbuka (open skill). Menurut Lutan (2005): “keterampilan terbuka adalah keterampilan dimana lingkungan selalu berubah – ubah atau sukar diprediksi, sehingga si pelaku tak dapat merencanakan secara efektif respons yang serasi.” Dari uraian tersebut, dalam pembelajaran aktivitas permainan sepakbola akan ditemui berbagai situasi dimana siswa dihadapkan beberapa pilihan yang harus dipilih. Seperti saat berada di depan gawang. Seorang siswa, bisa melakukan tendangan jika ada cukup ruang untuk melakukan tembakan. Dalam melakukan tembakan tersebut bisa juga terjadi situasi dimana rekannya lebih memiliki posisi yang lebih menguntungkan.
Berdasarkan cara berfikir tersebut, maka dalam pembelajaran aktivitas permainan sepakbola, siswa dibiasakan untuk membuka pemikirannya lebih luas, berfikir menggunakan pengetahuannya, membiasakan siswa berfikir cepat, dan membiasakan siswa berfikir secara efektif, sehingga dapat mengambil keputusan dengan cepat dan tepat. Sehingga berpeluang besar untuk mengembangkan berbagai dimensi baik kognitif, afektif dan psikomotor. Dengan pembelajaran aktifitas permainan sepakbola yang teratur, terencana, terarah dan terbimbing, diharapkan dapat dicapai seperangkat tujuan yang meliputi pembentukan dan pembinaan bagi pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani.
Berdasar pada uraian di atas, dalam pembelajaran aktifitas permainan sepakbola dimensi kognitif, afektif dan psikomotor. Dapat ditumbuh kembangkan. Menurut Sneyers (2002) menyatakan dalam sepakbola:
Tidak cukup mengandalkan latihan teknik dan taktik saja. Juga kelenturan disamping kekuatan otot, terutama yang berkaita erat dengan permainan sepakbola, harus dipersiapkan sejak dini. Kerja sama perlu dilatih sehingga setiap pemain dapat membaca pikiran kawannya.

Dari pendapat tersebut jelas bahwa dalam pembelajaran aktivitas permainan sepakbola, tidak hanya aspek psikomotor saja yang dikembangkan juga aspek kognitif lewat membaca pikiran kawan, lalu memutuskan apa yang akan dilakukan sehingga bias menghasilkan keputusan yang tepat. Lalu aspek afektif lewat kerja sama antar siswa.

2.      Gaya Mengajar Divergen
Gaya mengajar merupakan keputusan – keputusan yang dibuat oleh guru dan siswa dalam suatu kegiatan belajar mengajar dalam upaya untuk menjaga konsistensi belajar siswa. Mosston (1994:2) mengungkapakan bahwa : ”pola hubungan pembuatan keputusan yang dibuat guru dan siswa disebut gaya mengajar”. Dari uraian di atas jelas bahwa gaya mengajar bukan hanya suatu tata cara yang dilakukan oleh guru dalam pembelajaran, melainkan bagaimana seorang guru bisa melibatkan siswa dalam pengambilan keputusan.
Gaya mengajar divergen merupakan salah satu gaya mengajar yang berpusat pada siswa, Seperti yang diutarakan oleh Mosston “for the first time the learner is enganged in discovering and producing options within the subject matter.”. jadi siswa disini memiliki peran dan ikut serta secara langsung dalam membuat pilihan dan penemuan di dalam pembelajaran. Tugas siswa pada pembelajaran dengan gaya mengajar divergen adalah untuk menemukan jawaban terhadap permasalahan. Seperti yang diutarakan Mosston “ the role of the learner has been either to replicate and perform or to discover the specific target”. Gaya mengajar divergen berbentuk tugas – tugas dimana siswa berperan dalam membuat keputusan.  Guru hanya bertugas memberikan dan membimbing siswa dalam permasalahan yang harus di selesaikan. Jawaban dari permasalahan itu harus memiliki jawaban yang banyak atau berbeda – beda, gaya mengajar divergen juga memberikan kesempatan pada siswa untuk merancang suatu kegiatan dalam sebuah pembelajaran yang diberikan oleh guru. Siswa dituntut untuk menemukan jawaban yang bervariasi dengan menggunakan kreatifitasnya, keaktifannya dan kerja sama dalam pembelajaran untuk menghasilkan jawaban – jawaban tersebut. Seperti yang diutarakan oleh Furqon (68) menyatakan bahwa “gaya mengajar divergen merupakan suatu bentuk pemecahan masalah”. Sasaran metode divergen adalah:
    1. Mendorong siswa untuk menemukan pemecahan ganda melalui pertimbangan-pertimbangan kognitif.
    2. Mengembangkan “wawasan” ke dalam struktur kegiatan dan menemukan variasi.
    3. Memungkinkan siswa untuk bebas dari guru dan melampaui jawaban-jawaban yang diharapkan.
    4. Mengembangkan kemampuan untuk memerikasa dan menganalisis pemecahan-pemecahannya.

      Menurut Mosston (1994 :200) Gaya mengajar divergen memiliki struktur “Stimulus > Cognitive Dissonance > Mediation > Discovery.”. Dari uraian tersebut alur gaya mengajar divergen diawali dengan pemberian rangsangan, ini bisa diberikan dalam bentuk memberikan permasalahan sehingga siswa dituntut untuk berfikir sehingga mereka terangsang untuk berfikir. Cognitive dissonance pada tahapan ini siswa akan mencari cara penyelesaian permasalahan dengan menggunakan pengetahuan yang dimilikinya. Mediation pada tahapan ini siswa akan menemukan jawaban dan pada gaya mengajar divergen ini, siswa akan menemukan jawaban yang beragam. Discovery pada tahap ini siswa pembuatan jawaban dari permasalahan ke dalam bentuk praktek. Tujuan dari gaya mengajar divergen menurut Mosston (1994:201) yaitu:
  1. To invite the cognitive capacities of the teacher in designing problems for a given subject matter area.
  2. To invite cognitive capacities of the learner in discovering multiple solutions to any given problem in physical education
  3. To develop insight into the structure of the activity and discover the possible variations within this structure.
  4. To reach the level of affective security that permits the teacher and the learner to go beyond accepted, conventional responses.
  5. To develop the ability to verify solutions and organize them for specific purposes.

Dari uraian di atas guru dalam penggunaan gaya mengajar divergen dituntut untuk membuat permasalahan pada pembelajaran yang akan diberikan, dan guru dituntut menggunakan pengetahuan siswa dalam menyelesaikan permasalahan tersebut sehingga siswa dapat didorong untuk berfikir. Seorang guru harus dapat membiasakan siswa memiliki pandangan yang luas pada susunan pembelajaran sehingga dapat menghasilkan banyak jawaban ynag mungkin. Dengan gaya divergen, siswa diarahkan agar terbiasa dengan pencarian permasalahan, lalu siswa dituntut untuk menemukan solusi ke dalam praktek.
Dari tujuan penerapan gaya mengajar divergen yang diuraikan oleh Mosston di atas, maka hasil belajar yang diharapkan terjadi dan dinilai oleh guru dalam pembelajaran aktivitas permainan sepakbola berupa, respons jawaban yang diberikan oleh siswa seperti banyaknya gerakan yang dilakukan dalam melakukan tendangan, cara berfikir siswa dalam menemukan dan merumuskan cara melakukan tendangan yang berbeda – beda tiap gerakan, siswa terbiasa mencarai jawaban yang dapat muncul dalam pembelajaran, dan  siswa dituntut untuk terbiasa  saling mengkoreksi antar sesama siswa jika terdapat gerakan yang sama.  
Dalam penerapan gaya mengajar divergen ini dijelaskan oleh Mosston (1994:202) menjelaskan ada beberapa tahapan pengambilan keputusan yang dibuat oleh guru yaitu:
  1. Preimpact, the teacher make decision about the general subject matter, decision about specific topic, and decision about design problem of series that will elicit divergent solution. Teacher must first have insight into specifik elements of the activity, the sequence of the activity, and the structure of  the activity..
  2. Impact set the learner decides which multiple and divergent solutions adre applicable to the problem. The solutions discovered by the learner become the subject matter, the content of the episode.
  3. Post Impact, the learner makes evaluation decisions about the discover solutions.vthe more the learner is engaged in the post impact phase, the more the objective of this style is reached.

Dari uraian di atas terdapat 3 tahapan yang harus dibuat oleh guru, pertama pre impact, pada tahapan ini guru menyiapkan materi yang dapat mengarahkan siswa kedalam pemikiran divergent, guru harus menyusun kegiatan yang terhubung dari satu permasalahan ke permasalahan yang lain. Impact pada tahapan ini guru harus mengarahkan dan membimbing siswa untuk memutuskan penyelesaian dari permasalahan yang diberikan. Post impact, pada tahapan ini siswa akan memeriksa jawabannya, jika siswa bisa menemukan jawaban yang beragam maka tujuan dari gaya ini tercapai.
Agar tujuan dari gaya mengajar divergen  dapat tercapai, maka seorang guru Penjasorkes harus menyusun kegiatan pembelajaran dan menerapkan aspek dalam gaya mengajar divergen  yang diutarakan oleh Mosston (1994:206) “1. The design of a single problem and its consequences, 2. The design of sequence of problem, 3. Guidelines for designing problems in various acticities.”. dari uraian tersebut guru Penjasorkes terlebih dahulu ahrus menysusun permasalahan tunggal yang harus diselesaikan oleh siswa juga membuat kemungkinan – kemungkinan yang akan diberikan oleh siswa. Lalu menyusun bentuk permasalahan yang berkelanjutan, bentuk permasalahan yang dibuat harus berhubungan dari permasalahan tunggal yang dibuat, seperti penambahan pada inti masalah sehingga siswa dapat meencari jawaban permasalahan tersebut. Membuat garis pembimbing untuk permasalahan yang dibuat kedalam kegiatan yang beragam. Dari setiap kegiatan yang beragam tersebut harus terhubung sehingga penyelesaian divergen dapat diterapkan oleh siswa.
Tujuan utama dari gaya mengajar ini adalah untuk membiasakan siswa menghasilkan berbagai macam jawaban terhadap permasalahan tunggal. Mosston mengungkapkan tugas guru dan siswa yang terjadi pada penggunaan gaya mengajar divergen yaitu:
Role of learner:
  1. To produce divergent responses ( multiple responses to the same questions)
  2. To ascertain the validity of the responses
  3. To verify responses in some subject matter tasks.
Role of Teacher:
  1. To make the decision about the question to be asked
  2. To accept the responses
  3. To serve of verification in some subject matter tasks.

Didalam penggunaan suatu gaya mengajar terdapat kelebihan dan kekurangan, menurut Berliana (2008) yang di kutip oleh Muldan (2011) yaitu:
Kelebihan:
-          Melibatkan aspek kognitif sehingga memberikan kemungkinan untuk berkembang secara harmonis.
-          Memahami pernyataan dan jawaban memberikan kesempatan kepada siswa memahami hubungan antara proses dan hasil belajar.
-          Ganjaran dan dorongan yang tetap yang terkandung dalam proses belajar mengajar cenderung mendorong siswa membentuk citra dirinya dan membangkitkan perhatian dan keterlibatannya pada pokok bahasan.
Kekurangan:
-          Nampak sangat bertele – tele sering menimbulkan kebosanan bila tidak segera menemukan target belajarnya.
-          Diperlukan banyak waktu untuk membimbing siswa, yang menimbulkan keengganan guru membuat persiapan secara cermat.
-          Sangat menekankan pada laju kecepatan belajar siswa.

3.      Penelitian Tindakan Kelas
Metode penelitian yang dipergunakan peneliti adalah metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan menerapkan gaya mengjar divergen. Menurut Muslikah (2010:32) PTK adalah: “ Suatu bentuk penelitian yang bersifat reflektif dengan melakukan tindakan – tindakan tertentu agar dapat memeperbaiki dan meningkatkan  praktek – praktek di kelas secara professional”. Di dalam penelitian ini seorang guru harus peka terhadap gejala – gejala yang terjadi di kelas dalam pembelajaran, karena penelitian ini menitik beratkan pada permasalahan yang muncul pada pembelajaran, sehingga seorang guru bisa memperbaiki metode, model dan gaya mengajarnya, seperti yang diutarakan oleh Undang (2008:3) yaitu: “ … Melalui  PTK guru dapat memperbaiki kinerja metode mengajarnya sehingga daya serap atau taraf serap mata pelajaran yang dibinanya, bisa lebih optimal dipahami oleh siswa”. PTK menurut Arikunto (2008:2) ada tiga pengertian yang dapat diterangkan yaitu:
  1. Penelitian – menunjuk pada suatu kegiatan mencermati suatu objek dengan menggunakan cara dan aturan metodologi tertentu untuk memperoleh data atau informasi yang bermanfaat dalam meningkatkan mutu suatu hal yang menarik minat dan penting bagi peneliti.
  2. Tindakan – menunjuk pada suatu gerak kegiatan yang sengaja dilakukan dengan tujuan tertentu. Dalam penelitian berbentuk rangkaian siklus kegiatan untuk siswa.
  3. Kelas – dalam hal ini tidak terikat pada pengertian ruang kelas, tetapi dalam pengertian yang lebih spesifik. Seperti yang sudah lama dikenal dalam bidang pendidikan dan pengajaran, yang dimaksud dengan istilah kelas adalah sekelompok siswa yang dalam waktu yang sama, menerima pelajaran yang sama dari guru yang sama pula.

Dari penjelasan tersebut PTK dilaksanakan dengan tujuan meningkatkan mutu pembelajaran dan memeprhatikan pada aturan dan metodologi tertentu untuk memperoleh data atau informasi, lalu diberikan tindakan yang dalam bentuk siklus yang di dalamnya berisikan kegiatan yang dilakukan oleh siswa dan guru.  PTK dilaksanakan di kelas baik yang berada di luar maupun di dalam ruangan, baik yang dilakukan di lapangan olahraga ataupun ruangan kelas. Namun PTK bukanlah penelitian tntang ruang kelas tetapi kegiatan siswa yang diteliti dengan pemberian tindakan oleh guru yang sekaligus menjadi peneliti.
PTK berbeda dengan penelitian pada umumnya, metode penelitian ini biasa dipergunkan untuk memperbaiki, mendeteksi, dan menyempurnakan metode mengajar, seperti yang diutarakan oleh Undang (2008:13) yaitu: “… PTK bersifat pragmatis dan praktis, yakni memperbaiki atau meningkatkan mutu PBM di kelas”. Dari uraian tersebut peneliti yang menggunakan PTK harus mengetahui karakteristik siswa yang ada dalam sebuah PBM, sehingga jika muncul permasalahan – permasalahan, akan dengan mudah terdeteksi, dengan menggunakan PTK maka seorang guru dapat meneliti permasalahan tersebut dan mencari solusinya. Metode PTK ini dilaksanakan di SMA Negeri 1 pangalengan, dengan menerapkan gaya mengajar divergen.
      Pada penelitian ini penulis menggunakan desain penelitian berupa model siklus dari Kemmis dan Taggart. Model ini berbentuk perputaran atau rotasi yang dilakukan secara teratur dan tetap, siklus ini diterapkan dengan adanya perencanaan (planning) yang didalamnya berisikan perencanaan pembelajaran guru dalam mempersiapkan penelitian ini. Selanjutnya di ikuti dengan pelaksanaan (act) berisikan praktek kegiatan pembelajaran yang sudah dipersiapkan oleh guru.  Observasi (observe) pengamatan guru dari hasil penelitian pembelajaran. Refleksi (reflect)  berisikan perbaikan dari peneliti yang selanjutnya perbaikan tersebut akan di terapkan pada siklus ke II dan seterusnya.
      Gambar 3.1 desain penelitian model spiral Kemmis dan Taggart ( Gunawan Undang 2008: 104) adalah sebagai berikut:
Gambar 3.1


Pelaksanaan
 
Desain Penelitian Model Spiral Kemmis dan Taggart



Gamba
Bevel: Siklus II


Perencanaan
 


Pengamatan
 


?
 



Pelaksanaan
 






     



      Penelitian ini direncanakan sebanyak tiga siklus. Jika dalam penelitian ini masih belum terlihat hasil yang diinginkan oleh peneliti, maka keputusan untuk melanjutkan atau menambah siklus akan menjadi keputusan bersama antara peneliti dengan guru kelas XI di SMA Negeri 1 Pangalengan selaku observer. Siklus dihentikan jika dari siklus – siklus yang telah dijalankan terjadi perubahan yang diharapkan dan sesuai dengan rencana, dari gaya mengajar divergen yang diterapkan dalam pembelajaran.
      Berikut ini langkah – langkah yang akan dilakukan dalam tiap siklus yang dijelaskan sebagai berikut pada siklus ini peneliti mengidentifikasi permasalahan yang terjadi dalam pembelajaran aktivitas permainan sepak bola yang dilaksanakan di SMA Negeri 1 Pangalengan pada kelas XI yaitu:
  1. Masih jarangnya penggunaan gaya mengajar divergen di SMA Negeri 1 Pangalengan.
  2. Kurang aktifnya siswa yang diakibatkan dari penggunaan gaya, metode dan model mengajar yang dipergunakan guru.
  3. Kurangnya minat belajar siswa dalam pembelajaran karena terpusat pada guru.
  4. Kreatifitas siswa tidak muncul karena gaya mengajar yang dipergunakan kurang menunjang untuk siswa mengeluarkan kreatifitasnya.
  5. Kurangnya disiplin siswa dengan banyaknya siswa yang mengobrol ketika guru menjelaskan pembelajaran yang akan dilaksanakan.
Setelah masalah – masalah yang ada pada pembelajaran aktivitas permainan sepak bola , maka tahapa awal dalam melakukan penelitian dalam siklus pertama adalah dengan membuat perencanaan (planning) yang disesuaikan dengan hasil pengamatan awal: 
  1. perencanaan (plan)
Pada tahap perencaanaan dibuat tahapan – tahapan yang akan dilakukan peneliti dalam pembelajaran aktivitas permainan sepakbola yaitu:
  1. Membuat desain pembelajaran dengan menggunakan gaya mengajar divergen
  2. Mengamati kondisi sekolah yang akan dijadikan tempat penelitian.
  3. Mengumpulkan data – data, media, dan alat  yang dapat menunjang pembelajaran dengan gaya mengajar divergen.
  4. Membuat lembar – lembar observasi.
  1. pelaksanaan (act)
Dalam tahap pelaksaan ini  peneliti memberikan gaya mengajar divergen pada siswa. Dalam tahap ini guru menjelaskan kepada siswa rancangan pembelajaran aktivitas permainan sepakbola kepada siswa, dan menjelaskan harapan – harapan yang diharapkan muncul dari pembelajaran, guru mengajar sesuai dengan perencanaan yang telah dibuat. Guru mengajar seperti biasa dan peneliti atau observer meneliti pembelajaran yang dilaksanakan.
Guru memberuikan pmbelajaran mulai dari pembukaan yang terdiri dari  penjelasan, apersepsi, dan pemanasan, lalu dilanjutkan dengan inti pembelajaran, dan penutup, guru harus bersikap seperti biasa tanpa di buat – buat, dan harus mentaati apa yang sudah dibuat pada tahapan perencanaan.
  1. Pengamatan (observe)
Pengamatan ini dilakukan selama pembelajaran, dengan menggunakan lembar observasi dan catatan lapangan yang telah dibuat, lembar observasi ini berisikan pengamatan yang dilakukan dalam pembelajaran dengan menggunakan gaya mengajar divergen, lembar observasi ini digunakan untuk mengamati penggunaan gaya mengajar divergen dan pengaruhnya terhadap siswa..
Hasil dari lembar observasi digunakan sebagai acuan dalam reflection, untuk memperbaiki gaya mengajar yang dipergunakan dalam pembelajaran pada siklus ke dua
  1. Perbaikan (reflection)
Dalam tahap ini hasil dari perencanaan, pelaksanaan, dan pengamatan, dievaluasi dan dicari kelemahan dalam pembelajaran aktivitas permainan sepakbola pada siklus satu, untuk diperbaiki dan diterapkan pada siklus dua sehingga apa yang menjadi kekurangan dan bagaimana penyelesaiannya dapat dideteksi untuk mencapai tujuan yang diinginkan dari penelitian tindakan kelas. Oleh karena itu didalam pelaksanaan PTK tidak dapat dilaksanakan hanya dalam satu pertemuan atau satu kali siklus tapi dibutuhkan beberapa siklus untuk memperbaiki dan menemukan hasil yang diinginkan oleh peneliti sesuai dengan kriteria keberhasilan belajar siswa.
Untuk siklus – siklus selanjutnya dilakukan perbaikan dari hasil siklus pertama, pada siklus ke dua, peneliti memperbaiki kekurangan yang terjadi pada siklus pertama dengan langkah – langkah yang sama seperti siklus pertama, yang terdiri dai perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan observasi, namun hasil perbaikan dari siklus pertama di terapkan pada siklus kedua, selanjutnya pada siklus ketiga sama seperti pada pelaksaan siklus kedua, namun yang dipergunakan adalah hasil perbaikan dari siklus kedua dan diterapkan pada siklus ketiga, dan seperti itu seterusnya pada siklus – siklus selanjutnya jika dirasakan perlu menambah siklus.
  1. Kerangka Berfikir
Dari gambaran alur berfikir tersebut, dapat dianalisis bahwa hubungan antara hakikat pembelajaran aktivitas permainan sepakbola dan karakteristik permainan sepakbola dengan gaya mengajar divergen, dapat dilaksanakan dengan langkah – langkah PTK. Karena di dalam pembelajaran aktivitas permainan sepakbola, teknik yang dipergunakan tidak memiliki standar baku dan termasuk pada keterampilan terbuka. Seorang siswa dituntut untuk megeluarkan kreatifitasnya, pengetahuannya dan mengeluarkan kemampuannya dalam kegiatan pembelajaran aktivitas permainan sepakbola, agar siswa menjadi pribadi yang memiliki karakteristik moral yang kuat melalui internalisasi nilai – nilai yang terkandung di dalam pembelajaran aktivitas permainan sepakbola. Seperti memiliki sikap sportif, fair play, jujur, disiplin, bertanggung jawab, percaya diri dan dapat bekerja sama.
Ini sesuai dengan gaya mengajar divergen, dimana siswa dituntut untuk mengeluarkan kreatifitasnya, pengetahuannya dan kemampuan yang dimiliki dalam situasi yang diberikan oleh guru pada kegiatan pembelajaran. Siswa harus mengeluarkan kreatifitasnya untuk memberikan jawaban yang berfariasi pada permasalahan yang diberikan oleh guru.
Berdasarkan kerangka berfikir di atas, penerapan gaya mengajar divergen di dalam pembelajaran aktifitas permainan sepakbola yang dilaksanakan dengan menggunakan  langkah – langkah PTK, diduga bahwa gaya mengajar divergen dapat diterapkan dalam pembelajaran aktifitas permainan sepakbola.
  1. Hipotesis
Berdasarkan tinjauan teori dan kerangka berfikir tersebut di atas, maka hipotesis tindakan yang diajukan dalam penelitian ini adalah: “gaya mengajar divergen dapat diterapkan dalam pembelajaran aktifitas permainan sepakbola.


 BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

A.    TUJUAN OPERASIONAL PENELITIAN
Tujuan operasional penelitian ini adalah untuk meningkatkan pemahaman dan  keterampilan peneliti dalam menerapkan gaya mengajar divergen, khususnya dalam rangka meningkatkan kualitas pembelajaran aktivitas permainan sepakbola di SMA Negeri 1 Pangalengan, terutama kelas XI IPA 1.

B.     TEMPAT DAN WAKTU PENELITIAN
1.      Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 1 Pangalengan, Penelitian ini akan dilaksanakan pada kelas XI IPA 1 dengan jumlah siswa 40 orang yang terdiri dari 16 orang siswa laki – laki dan 24 orang siswa perempuan.
2.      Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap tahun ajaran 2011 – 2012. Waktu penelitian digambarkan seperti pada Matrik 3.1 di bawah ini:
NO
Nama Kegiatan

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14
15
1.
Penyusunan Proposal Skripsi















2.
Bimbingan Proposal Skripsi















3.
Seminar Proposal Skripsi















4.
Surat Keputusan Judul Skripsi















5.
BAB I (Pendahuluan)















6.
BAB II (Tinjauan Teoritis, Kerangka Berfikir, dan Hipotesis Tindakan)















7.
BAB III (Metodologi Penelitian)















8.
Observasi















9.
BAB IV (Pengolahan Data)















10.
BAB V (Kesimpulan dan Saran)















11.
Pra Sidang Skripsi















12.
Ujian Sidang
















C.    FOKUS PENELITIAN
Penelitian ini difokuskan pada penerapan gaya mengajar Divergen dalam pembelajaran aktivitas permainan sepakbola di SMA Negeri 1 Pangalengan

D.    METODE PENELITIAN
Metode penelitian yang dipergunakan pada penelitian ini adalah metode penelitian tindakan kelas (PTK), hal yang berkaitan dengan PTK telah dijelaskan pada BAB II.

E.     LANGKAH – LANGKAH PENELITIAN
Merujuk pada langkah – langkah PTK seperti yang dikemukakan Arikunto (2008:16) bahwa dalam penelitian tindakan kelas “terdapat empat tahapan yang lazim dilalui, yaitu 1. Perencanaan, 2. Pelaksanaan, 3. Pengamatan dan 4. Refleksi.” Dalam kaitannya dengan penelitian ini dikemukakan langkah penelitian sebagai berikut:
a.    Observasi Awal
Adalah kegiatan pertama peneliti untuk melihat permasalahan pembelajaran Penjas, khususnya pembelajaran aktivitas permainan sepakbola yang dilaksanakan di SMA Negeri 1 Pangalengan. Maksud observasi adalah untuk mengamati kegiatan pembelajaran dan menganalisis masalah – masalah yang terkait dengan fokus penelitian. Fokus masalah yang di teliti atau yang diobservasi meliputi kegiatan pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru, gaya / metode mengajar yang digunakan oleh guru, respons siswa terhadap kegiatan pembelajaran, interaksi – interaksi akademik yang terjadi sebagai akibat tindakan yang diberikan oleh guru dan sarana prasarana pendukung pembelajaran yang terdapat di sekolah yang dijadikan tempat penelitian.
Data – data yang terkait dengan fokus penelitian dicatat dalam catatan lapangan yang dijadikan data untuk pembahasan dan dituangkan dalam wujud Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Data hasil pengamatan tersebut, yang berupa masalah – masalah yang teridentifikasi, selanjutnya dijadikan pembuatan pedoman perencanaan perbaikan dalam pembelajaran tahap berikutnya. Dalam penelitian ini, salah satu perencanaan yang dibuat oleh peneliti adalah RPP aktivitas permainan sepakbola. Sesuai dengan batasan masalah yang dikaji dalam penelitian ini, maka RPP yang dibuat berorientasi pada penerapan gaya mengajar divergent.



b.      perencanaan (plan)
Pada tahap perencaanaan dibuat tahapan – tahapan pelaksanaan pembelajaran yang akan dilakukan peneliti dalam pembelajaran aktivitas permainan sepakbola yaitu:
  1. Mempelajari Permendiknas nomor 41 tahun 2007, kurikulum KTSP 2006, silabus dan program pembelajaran yang ada di SMA Negeri 1 Pangalengan, untuk dijadikan pedoman pembuatan RPP aktivitas permainan sepakbola ,dengan menggunakan gaya mengajar divergent
  2. Membuat rancangan RPP aktivitas permainan sepakbola dengan menggunakan gaya mengajar divergent
  3. Mendiskusikan rancangan RPP dengan pembimbing
  4. Mempersiapkan peralatan yang akan dipergunakan dalam pembelajaran.
c.       Pelaksanaan (act)
Dalam tahap pelaksaan ini, peneliti membuat dan melaksanakan:
  1. Pembelajaran aktivitas permainan sepakbola ,dengan menggunakan gaya mengajar divergent, yang sudah dirancang pada RPP. Selanjutnya untuk dilaksanakan.
  2. Pada penerapan RPP dengan gaya mengajar divergen  ini, peneliti menjadi pengajar dan orserver, yang bertugas untuk mengambil foto – foto kegiatan penelitian, mencatat kegiatan penelitian, dan mengisi lembar observasi.
  3. Peneliti mencatat permasalahan yang muncul saat perlaksanaan pembelajaran, selanjutnya catatan ini disebut dengan catatan lapangan.

d.      Perbaikan (reflection)
Refleksi merupakan tahap yang dilaksanakan setelah tahap pelaksanaan. Pada tahap ini peneliti mengkaji, melihat dan mengevaluasi hasil – hasil atau respons dari tindakan yang telah dicatat dalam catatan lapangan. Tahap reflesi adalah bagian yang sangat penting dari PTK. Refleksi yang ditekankan adalah evaluasi diri peneliti selaku guru dan hasil yang terjadi, yaitu berupa perubahan sebagai akibat dari tindakan yang dilakukan.proses refleksi ini juga dikonsultasikan dengan pembimbing.
Jika hasil refleksi sudah terlihat dampak yang diharapkan oleh peneliti, termasuk relevansi ketercapaian tujuan penelitian, maka disimpulkan penelitian tindakan kelas dianggap cukup. Tapi jika hasil refleksi pada siklus pertama belum terlihat dampak yang diharapkan, maka penelitian tindakan kelas dilanjutkan dengan penelitian pada siklus ke II.

F.     Data Penelitian
1.      Sumber data:
Data – data yang digunakan untuk analisis yang dipergunakan dalam penelitian ini bersumber dari:
·         Guru dalam hal ini peneliti sendiri
·         Respons siswa khususnya dalam hubungannya dengan diterapkannya gaya mengajar divergent dalam pembelajaran aktivitas permainan sepakbola oleh peneliti/ guru
·         Data observer
·         Lingkungan sekolah SMA Negeri 1 Pangalengan yang dijadikan tempat penelitian
2.      Jenis data:
Jenis data dalam penelitian ini berupa data deskripsi kualitatif tentang permasalahan dan cara pemecahan masalah yang teridentifikasi oleh peneliti, dalam bentuk catatan lapangan, dokumentasi (foto) dan hasil refleksi dari tiap pelaksanaan pembelajaran.
3.      Alat Pengumpul Data:
Alat pengumpulan data yang dipergunakan pada penelitian ini adalah :
·         Catatan lapangan dan catatan observer
·         Alat observasi
·         Dokumnetasi (Video dan foto)

G.    TEKNIK ANALISIS DATA
Teknik analisis data merupakan lanjutan dari tahap pengumpulan data. Analisis data merupakan bagian yang sangat penting dari suatu penelitian. Oleh sebab itu, peneliti harus memahami teknik analisis data agar hasil penelitiannya mempunyai nilai ilmiah yang baik. Dalam penelitian ini teknik analisis data yang dipergunakan adalah dengan cara triangulasi data. Triangulasi yaitu menggunakan berbagai sumber data untuk meningkatkan kualitas penilaian seperti menganalisis, mensintesis, memaknai, menerangkan, menyimpulkan data yang terkumpul. Triangulasi data dilakukan antara peneliti, dosen pembimbing dan mitra peneliti serta menggunakan dokumentasi kegiatan pembelajaran.
Selanjutnya data yang diperoleh direduksi lalu dikelompokan. Hasil yang didapat berupa kebiasaan – kebiasaan yang muncul pada pembelajaran aktivitas permainan sepakbola, selanjutnya dideskripsikan sehingga menjadi suatu kesimpulan.  


BAB IV
PEMBAHASAN
A.    Deskripsi Latar Penelitian
Di dalam penelitian tindakan diperlukan serangkaian tahapan, sehingga apa yang telah dilaksanakan dapat memenuhi apa yang diharapkan mengenai pembelajaran Penjas di SMA Negeri 1 Pangalengan. Sebelum melaksanakan penelitian, permasalahan pembelajaran yang ditemukan harus dicari deskripsinya terlebih dahulu dan dicari solusinya. Oleh karena itu tahapan yang dilakukan adalah dengan melakukan observasi awal. Observasi yang dilaksanakan terfokus pada aspek – aspek dalam proses pembelajaran Penjaskes di SMA Negeri 1 Pangalengan. Hasil observasi awal ini dijadikan sebagai bagian dari siklus – siklus selama penelitian tindakan.
SMA Negeri 1 Pangalengan terletak di Kecamatan Pangalengan Kabupaten Bandung. SMA Negeri 1 Pangalengan merupakan salah satu sekolah negeri di Kec. Pangalengan. SMA Negeri 1 Pangalengan memiliki 16 ruang kelas, 4 ruang kantor, 1 perpustakaan, 1 lab komputer, 1 lab bahasa, 3 lab IPA, 1 Masjid 3 lapangan olahraga yang terdiri dari lapangan basket, sepakbola, dan voli.
Pembelajaran Penjas di SMA Negeri 1 Pangalengan, karena pembelajaran dilaksanakan terpisah, kelas yang dipergunakan dalam penelitian adalah putra  XI IPA 1,2 dan 3 dilaksanakan pada hari kamis pukul 13.00 – 14.20 dan guru mata pelajaran Penjas adalah Tate Sutanto S.Pd, beliau adalah lulusan dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) dari FPOK dan jurusan PKO, beliau lulus pada tahun 1999.
B.      Permasalahan Yang Teridentifikasi
Pada observasi awal yang dilakukan, peneliti mendapatkan beberapa catatan di lapangan tentang kegiatan pembelajaran yang berlangsung yakni aktivitas siswa yang kurang dalam proses pembelajaran penjaskes. Dari observasi awal tersebut, terdapat beberapa catatan yang perlu dibahas dalam penelitian ini, catatan – catatan tersebut secara garis besar telah ditulis dalam catatan lapangan (lampiran ke 4.2). Secara singkat catatan – catatan lapangan tersebut, dipaparkan di bawah ini sebagai berikut:
a.       Guru terlihat melatih siswa untuk melakukan gerakan, sampai siswa menguasai gerakan tersebut.
b.      Adanya siswa yang menggunakan HP saat pembelajaran berlangsung.
c.       Kurang aktifnya siswa terlihat dengan banyaknya siswa yang diam menunggu giliran.
d.      Penggunaan peralatan dan lapangan yang tidak optimal, sehingga siswa banyak menunggu giliran pada saat pembelajaran penjaskes berlangsung.
Dari beberapa catatan tersebut di atas, peneliti menyimpulkan beberapa kemungkinan yang menjadi penyebab dari pembelajaran yang digambarkan tersebut di atas sebagai berikut:
1.      Pemahaman konsep penjas dari guru yang bersangkutan tereduksi menjadi melatih gerak padahal penjas itu memberikan layanan yang berbentuk layanan gerak yang dijadikan sebagai media pembelajaran.
2.      Pemahaman konsep penjas tentang menumbuhkembangkan aspek psikomotor, kognitif dan afektif yang masih terpisah, sehingga kemungkinan guru hanya focus dalam mengembangkan aspek psikomotor dan afektifsaat pembelajaran di lapangan dan memberikan aspek kognitif pada saat teori di dalam kelas.  Padahal pembelajaran Penjaskes harus melingkupi semua aspek mulai dari aspek afektif, psikomotor, dan kognitif.
3.      Dari 2 kali pertemuan itu, guru masih menekankan pada penguasaan teknis, ada kemungkinan guru belum mempelajari beberapa pendekatan pembelajaran yang bisa dipergunakan. Jika dilihat dari latar belakang pendidikan bapak Tate Sutanto S.Pd yang merupakan lulusan PKO UPI, mungkin guru tersebut belum mempelajari model – model pembelajaran yang bisa diterapkan, karena model – model pendekatan pembelajaran baru terakomodasi dalam kurikulum PJKR tahun 2007.
4.      Guru telah mengetahui beberapa metode dan gaya mengajar, dan tidak sempat untuk mempraktikannya dalam kegiatan pembelajaran.
5.      Kurangnya pengawasan dari guru karena jumlah siswa yang banyak, sehingga guru terfokus pada memberikan instruksi tanpa dapat memperhatikan seluruh siswa, sehingga ada siswa yang menggunakan HP tanpa sepengetahuan guru ini juga kemungkinan disebabkan oleh kurang tegasnya peraturan yang diberikan kepada siswa saat pembelajaran.
6.      Pengaturan siswa saat pembelajaran yang kurang optimal dan kurang variatif, sehingga  membuat siswa kurang tertarik untuk mengikuti pembelajaran dengan sungguh - sungguh dan mengakibatkan siswa mejadi malas bergerak saat pembelajaran.
Hasil observasi ini dijadikan acuan bagi peneliti untuk memperbaiki kegiatan pembelajaran, guna meningkatkan kreatifitas, keaktifan dan minat siswa dalam mengikuti pembelajaran aktivitas permainan sepakbola dan selanjutnya dijadikan acuan untuk menyusun perencanaan.
C.    Perencanaan
Setelah melakukan observasi awal, ada beberapa hal yang harus dilakukan dalam melaksanakan penelitian tindakan ini. Beberapa hal yang harus dilakukan adalah sebagai berikut:
1.      Mempelajari PERMENDIKNAS (Peraturan Menteri Pendidikan Nasional) No. 22 Tahun 2006 yang mengenai SI (standar isi) dan No 23 tahun 2007 tentang SKL (Standar Kompetensi lulusan) yang dijadikan pedoman dalam pembuatan RPP. SKL merupakan standar yang harus dicapai oleh siswa yang meliputi sikap, pengetahuan dan keterampilan. SI adalah fondasi dari kurikulum, SK (standar kompetensi) dan KD (kompetensi dasar) setiap mata pelajaran. Kurikulum adalah rencana dan peraturan mengenai tujuan, isi dan bahan ajar serta tata cara yang dipergunakan sebagai pedoman kegiatan pembelajaran dalam mencapai suatu tujuan tiap mata pelajaran. KTSP adalah kurikulum yang ada disetiap satuan pendidikan dan disusun serta dilaksanakan dimasing – masing satuan pendidikan. KTSP terdiri dari tujuan pendidikan di tiap tingkat satuan pendidikan, struktur dan muatan kurikulum tingkat satuan pendidikan, kalender pendidikan dan silabus.  Silabus adalah rencana pembelajaran pada suatu mata pelajaran yang terdiri dari standar kompetensi, kompetensi dasar, indicator, tujuan pembelajaran, materi pembelajaran, metode pembelajaran, kegiatan pembelajaran, alokasi waktu, suber belajaran dan penilaian/ evaluasi. Komponen – komponen tersebut merupakan dasr dalam mengembangkan RPP.  Silabus dan RPP memiliki kesamaan yaitu terdapat pada standar kompetensi dan kompetensi dasar yang merupakan dasar materi dari kegiatan pembelajaran yang akan diberikan kepada siswa. Perbedaan antara silabus dan RPP adalah ruang lingkup pembahasan dimana silabus lebih umum dan tidak menggambarkan/ menerangkan kegiatan pembelajaran secara terperinci seperti dalam RPP, sedangkan RPP merupakan pengembangan silabus.
Di bawah ini merupakan keterangan mengenai silabus dan komponen – komponen yang tercakup di dalam silabus:
a.       Standar kompetensi merupakan rumusan untuk setiap kegiatan pembelajaran, tiap semester, pada tiap tingkatan dan jenjang pendidikan dan sudah tersurat dalam standar isi KTSP yang ditetapkan oleh DEPDIKNAS.
b.      Kompetensi dasar cakupannya lebih sempit dari standar kompetensi. Kompetensi dasar mengacu pada standar kompetensi dan sesuai dengan kemampuan sekolah yang bersangkutan.
c.       Indikator, merupakan acuan pencapaian kompetensi dasar yang dapat diukur dengan adanya perubahan perilaku yang meliputi perubahan sikap, pengetahuan dan keterampilan. Indicator setiap satuan pendidikan berbeda – beda tergantung karakteristik peserta didik dan dirumuskan dalam kata kerja operasional yang terukur dan dapat diobservasi.
d.      Tujuan pembelajaran, merupakan penggambaran proses pembelajaran yang dikembangkan oleh guru, sebagai acuan tercapainya hasil belajar yang diharapkan oleh peserta didik. Tujuan pembelajaran harus meliputi dimensi afektif, kognitif dan psikomotor yang merupakan dimensi – dimensi kepribadian manusia, sehingga tidak hanya berkembang di dalam pembelajaran juga tumbuh kembang di lingkungan tempat pesertsa didik bersosialisasi.
e.       Materi, terdapat 8 kategori pembelajaran pendidikan jasmani yang tertuang dalam standar isi kurikulum KTSP 2006 yang berbentuk aktivitas – aktivitas pembelajaran yaitu: aktivitas olahraga dan permainan, aktivitas ritmik, aktivitas akuatik, aktivitas pengembangan, aktivitas senam, aktivitas pendidikan luar kelas dan kesehatan. Pada penelitian ini yang dipergunakan adalah aktivitas olahraga dan permainan dalam bentuk pembelajaran aktivitas permainan sepakbola. Aktivitas pembelajaran ini merupakan penjabaran dari aktivitas permainan olahraga yang telah ada dalam kurikulum dan disesuaikan dengan karakteristik sekolah.
f.       Strategi/gaya mengajar merupakan suatu perencanaan yang dilakukan oleh guru dan siswa untuk mencapai tujuan secara maksimal. Terdapat beberapa strategi/gaya mengajar diantaranya:  1. Komando, 2. Divergen, 3. Tugas, 4. Pemecahan masalah.
g.      Kegiatan pembelajaran, di dalam RPP terdapat kegiatan pembelajaran, yang dimaksud kegiatan pembelajaran tersebut adalah usaha pencapaian kompetensi dasar yang telah dirumuskan melalui langkah – langkah pembelajaran yang dilaksanakan. Langkah – langkah pembelajaran tersebut harus disusun secara sistematis dari kegiatan yang mudah ke yang sulit, dari tingkat yang rendah hingga tingkat yang tinggi. Sesuai dengan gaya mengajar yang dipergunakan dalam kegiatan pembelajaran, yaitu menggunakan gaya mengajar divergen dan langkah – langkah yang dipergunakan tiap pertemuan adalah sebagai berikut:
1)      Persiapan guru penjas sebelum pembelajaran
a.       Menyiapkan perangkat pembelajaran (RPP, lembar persensi, lembar penilaian, lembar tugas, catatan lapangan, dan lembar observasi)
b.      Menyiapkan peralatan pembelajaran (bola, cone dan tali)
c.       Menyiapkan pertanyaan – pertanyaan untuk mengelaborasi respon siswa.
2)      Pelaksanaan pembelajaran
a.       Pendahuluan atau pembuka
b.      Mengumpulkan siswa, membuka pembelajaran, memimpin do’a, persensi, menyampaikan ruang lingkup materi dan tujuan pembelajaran.
-          Membagi siswa ke dalam kelompok pemanasan dan memberi tugas kepada tiap kelompok untuk melakukan pemanasan dengan cara mereka.
c.       Kegiatan inti
-          Memberikan petunjuk tata cara melakukan permainan pendekatan taktis
-          Memberikan petunjuk tata cara melakukan permainan penguasaan bola.
-          Membimbing dan memotivasi siswa untuk kreatif melakukan gerakan mengontrol, mengoper, mendukung  rekan yang pembawa bola.
-          Memberikan reward kepada siswa yang melakukan gerak mengontrol, mengoper, dan mendukung  rekan pembawa bola yang kreatif.
-          Memberikan funishment kepada siswa yang menunjukan gerak mengontrol, mengoper , dan mendukung  rekan pembawa bola yang tidak relevan dengan situasi permainan
-          Memberikan pertanyaan elaborasi  untuk merangsang respons kreatif siswa yang relevan dengan situasi permainan
-          Guru menguatkan respons siswa yang tepat dengan cara dilatih/ diulang
-          Mendorong siswa untuk bekerjasama, menghargai lawan dan kawan dalam permainan dan berani mengungkapkan pendapatnya
d.      Penutup
-          Memberikan evluasi kepada siswa tentang kegiatan pembelajaran yang sudah dilaksanakan dengan cara lisan dan random (guru memilih atau menunjuk siswa)
-          Memberikan umpan balik kepada siswa
-          Memberikan refleksi tentang  penerapan nilai – nilai dalam dimensi kognitif, psikomotor dan afektif yang terdapat dalam pembelajaran kedalam kehidapan sehari - hari
-          Menutup kegiatan pembelajaran dengan berdo’a
h.      Sumber belajar adalah berbagai hal yang dapat digunakan sebagai bahan ajar atau bahan belajar bagi siswa yang meliputi: guru, buku, lapangandan peralatan yang berhubungan dengan pembelajaran sebagai sarana penunjang kegiatan pembelajaran.
2.      Penilaian, untuk penilaian disesuaikan pada indicator dan tujuan pencapaian kompetensi yang mengacu pada standar penilaian yang meliputi penilaian proses dan hasil belajar.
Dalam penilaian dapat dipergunakan teknik tes dan non – tes, kedua teknik penilaian tersebut harus berkaitan dengan dimensi afektif, kognitif dna psikomotor. Untuk tes dipergunakan dalam penilaian dimensi kognitif yang berbentuk pertanyaan – pertanyaan yang diberikan secara random kepada siswa.
Penilaian non – tes dilakukan dengan cara observasi. Observasi dilakukan pada dimensi afektif dan psikomotor yang dilakukan selama dan setelah pembelajaran berlangsung. Observasi afektif yang diamati adalah perilaku atau sikap siswa selama dan sesudah pembelajaran, untuk observasi psikomotor yang diamati adalah perilaku motorik yang ditampilkan oleh siswa.
3.      Mempelajari buku yang berkaitan dengan sepakbola dan pendekatan taktis sepakbola
4.      Membuat RPP (rencana pelaksanaan pembelajaran) dengan menggunkan gaya mengajar divergent dalam pembelajaran aktivitas permainan sepakbola dengan menggunakan pendekatan taktis yang telah terlampir.
D.    Uraian tindakan
a.      Perencanaan tindakan I
Dari uraian perencanaan secara garis besar di atas maka peneliti membuat perencanaan dalam tindakan I sebagai berikut:
1.      Membuat RPP menggunakan gaya mengajar divergent pada pembelajaran aktivitas permainan sepakbola dengan pendekatan taktis dan materi pembelajaran permainan penguasaan bola 3 vs 3 (lampiran 4.1).
2.      Mempersiapkan peralatan pembelajaran yaitu bola, peluit, cone, tali, lembar persensi, catatan lapangan, catatan observasi dan format penilaian secara observasi.
b.      Pelaksanaan tindakan I
Pada pelaksanaan tindakan ini, peneliti juga berperan sebagi guru dalam proses pembelajaran. Kegiatan pembelajaran yang berlangsung mengacu pada perencanaan yang telah dibuat dengan tujuan menerapkan gaya mengajar divergent dalam pembelajaran aktivitas permainan sepakbola. Pembelajaran berlangsung pada siswa putra kelas XI IPA 1,2 dan 3 pada hari senin tanggal 8 Oktober 2012 dari pukul 14.00 sampai pukul 15.15 WIB di lapangan basket SMA 1 Pangalengan, penggunaan lapang basket dikarenakan lapangan sepakbola yang tidak layak pakai dengan kondisi rumput yang melebihi mata kaki, sehingga dapat membahayakan siswa.
Pertama – tama peneliti membuat lapang basket menjadi 6 lapangan kecil dan menyiapkan bola yang akan dipakai, setelah itu peneliti mengumpulkan siswa di lapangan, berdo’a, persensi, apersepsi, menyampaikan ruang lingkup materi pembelajaran aktivitas permainan sepakbola dan menyampaikan tujuan pembelajaran. setelah membuka pembelajaran peneliti membagi siswa menjadi 8 kelompok dikarenakan ada 10 orang siswa yang tidak hadir maka peneliti membagi siswa menjadi 6 kelompok, dan memerintahkan siswa untuk melakukan pemanasan per kelompok di lapangan yang sudah dipersiapkan. Pada kegiatan pemanasan siswa terlihat kebingungan dan banyak yang diam dan tidak melakukan pemanasan, lalu peneliti memberikan pertanyaan untuk merangsang siswa, setelah diberikan pertanyaan beberapa kelompok mulai aktif melakukan pemanasan. Salah satu kelompok melakukan pemanasan dengan cara main kucing – kucingan dan yang lain hanya melakukan pemanasan dinamis dan statis.
Setelah 10 menit pemanasan, peneliti menghentikan kegiatan dan mulai menjelaskan peraturan permainan penguasaan bola 3 vs 3 yang pertama. Setelah menjelaskan peneliti menyuruh siswa untuk memulai permainan. Siswa terlihat antusias dalam melakukan permainan penguasaan bola namun hampir seluruh kelompok terlihat kurang aktif dalam melakukan pergerakan dalam mendukung pembawa bola sehingga peneliti memberikan pertanyaan untuk mengelaborasi dan merangsang respon siswa, setelah diberi pertanyaan siswa mulai aktif bergerak dalam mendukung pembawa bola. Dalam hal passing dan mengontrol bola siswa terlihat aktif dan kreatif melakukan gerakan.
Setelah 20 menit, peneliti berkeliling melihat dan mengamati tiap kelompok yang sedang melakukan permainan penguasaan bola, peneliti menghampiri satu per satu kelompok dan melihat ada beberapa siswa dari tiap kelompok yang melakukan gerakan mengoper, mengontrol dan gerakan mendukung pembawa bola yang kreatif, lalu peneliti menghentikan permainan dan memerintahkan kepada siswa – siswa tersebut untuk mempraktekan gerakan mengoper, mengontrol dan mendukung rekan pembawa bola, sehingga dapat dilihat oleh siswa yang lain dan dapat melatih gerakan tersebut untuk menunjang pergerakan pada permainan selanjutnya. Dan seterusnya hingga permainan penguasaan bola yang ke dua.
Setelah kedua permainan penguasaan bola dipraktekan peneliti mengumpulkan siswa dan memberikan motivasi kepada siswa. Peneliti memberikan refleksi dari kegiatan pembelajaran yang telah berlangsung. Peneliti memberikan evaluasi dengan cara memberikan pertanyaan kepada siswa secara random. Setelah itu absensi, berdo’a dan bubar. 
c.       Hasil Pengamatan, observasi refleksi, dan rencana perbaikan
1.      Hasil pengamatan dan Observasi
Pada pengamatan yang dilakukan, peneliti mendapatkan beberapa catatan di lapangan tentang kegiatan pembelajaran yang berlangsung. Dari pengamatan tersebut, terdapat beberapa catatan yang perlu dibahas, catatan – catatan tersebut secara garis besar telah ditulis dalam catatan lapangan (lampiran ke 4.3). Secara singkat catatan – catatan lapangan tersebut, dipaparkan di bawah ini sebagai berikut:
a.         Kurang jelasnya suara peneliti sehingga siswa menginterupsi peneliti saat menyampaikan materi.
b.      Siswa melakukan operan tidak akurat sehingga bola keluar lapangan permainannya dan membahayakan pada kelompok lain karena bola masuk ke lapangan kelompok lain.
c.       Adanya 10 orang siswa yang tidak hadir karena dispensasi kegiatan organisasi.
d.      Siswa pasif dalam melakukan pemanasan.
e.       Siswa banyak diam dan kurang aktif dalam melakukan permainan
Disamping hasil catatan – catatan lapangan tersebut, pada bagian ini digambarkan pula skor rata – rata setiap indikator keberhasilan proses pembelajaran hasil observasi pada setiap dimensi/aspek yaitu sbb:

a.       Skor rata – rata tiap indikator untuk aspek afektif dan social :
-          Skor rata – rata dari indikator 1 adalah 5,2
-          Skor rata – rata dari indikator 2 adalah 10
-          Skor rata – rata dari indikator 3 adalah 10
-          Skor rata – rata dari indikator 4 adalah 7.1
-          Skor rata – rata dari indikator 5 adalah 10
-          Skor rata – rata untuk keseluruhan indikator adalah 8.68
b.      Skor rata – rata tiap indikator untuk aspek psikomotor:
-          Skor rata – rata dari indikator 1 adalah 7
-          Skor rata – rata dari indikator 2 adalah 7
-          Skor rata – rata dari indikator 3 adalah 7
-          Skor rata – rata dari indikator 4 adalah 6
-          Skor rata – rata untuk keseluruhan indikator adalah 6.50
c.       Skor rata – rata tiap indikator untuk aspek kognitif:
-          Skor rata – rata dari indikator 1 adalah 6
-          Skor rata – rata dari indikator 2 adalah 6.5
-          Skor rata – rata dari indikator 3 adalah 6.5
-          Skor rata – rata dari indikator 4 adalah 6
-          Skor rata – rata untuk keseluruhan indikator adalah 6.25
2.      Hasil Refleksi
Dari beberapa catatan tersebut di atas, peneliti menyimpulkan beberapa kemungkinan yang menjadi penyebab dari pembelajaran yang digambarkan tersebut di atas sebagai berikut:
1.      Kurangnya latihan dalam penyampaian materi oleh peneliti sehingga kurang jelas dalam menyampaikan materi..
2.      Pengaturan siswa yang kurang baik sehingga pada saat menjelaskan materi suara peneliti tidak terdengar oleh siswa sehingga banyak yang menginterupsi peneliti.
3.      Kurangnya jam mengajar atau latihan sebelum praktek yang mengakibatkan kegugupan pada peneliti sehingga dalam penyampaian materi kurang jelas.
4.      Sempitnya lapangan dan kurang tegasnya peraturan sehingga banyak siswa yang membiarkan bola keluar lapangan permainannya dan masuk ke lapangan permainan kelompok lain
5.      Kurang jelasnya instruksi dari peneliti sehingga siswa kurang faham apa yang diinstruksikan dan mengakibatkan kurang aktif dalam melakukan pemanasan.
6.      Siswa yang terbiasa dengan model pembelajaran teknis, sehingga pada saat diberikan kebebasan untuk melakukan pemanasan secara kreatif, siswa kebingungan karena tidak adanya contoh dari guru.
7.      Tidak terbiasanya siswa dengan gaya mengajar divergen, sehingga siswa terlihat kurang aktif dan kreatif dalam melakukan permainan, kemungkinan ini terjadi karena terbiasa melakukan pembelajaran dengan cara melatih teknik sehingga dalam aplikasi permaian siswa terpaku pada beberapa teknik pasing saja.     .
Berkaitan dengan variable yang dikaji dalam penelitian ini adalah implementasi gaya mengajar, mka rencana perbaikan PBM berikutnya terutama difokuskan pada meningkatkan kreatifitas dan keaktifan siswa, sebagai ciri dari penerapan gaya mengajar divergent. Hal – hal yang diperbaiki dalam PBM berikutnya sebagai hasil refleksi dan focus penelitian sebagai berikut.
3.      Perencanaan tindakan II
Berdasarkan hasil refleksi dari pengamatan dan catatan lapangan dari hasil proses pembelajaran yang telah dilakukan pada tindakan ke I, selanjutnya peneliti membuat perencanaan untuk pelaksanaan tindakan ke II dalam pembelajaran aktivitas sepakbola dengan menggunakan gaya mengajar divergen.  Pelaksanaan tindakan ke II akan disesuaikan dengan permasalahan yang muncul pada pelaksanaan tindakan pembelajaran yang I, dengan:
1.      Berlatih penyampaian materi sebelum pembelajaran dimulai, sehingga pada saat praktek dilaksanakan peneliti dapat menyampaikan materi dengan jelas dan tidak terputus – putus.
2.      Mempersiapkan kelompok siswa yang bervariasi untuk mengantisipasi jika banyak siswa yang tidak hadir pada praktek ke 2.
3.      Memberikan gambaran pembelajaran dengan menggunakan gaya mengajar divergen kepada siswa pada saat kegiatan pendahuluan sehingga siswa terbiasa untuk lebih aktif dan kreatif dalam pembelajaran.
4.      Mempertegas peraturan, agar siswa bias bermain di lapangannya tanpa  mengganggu lapangan kelompok lain dengan memberikan hukuman jika salah satu kelompok masuk ke lapangan kelompok lain.
5.      Mempersiapkan peralatan dan bentuk lapangan yang lebih jelas untuk tiap kelompok agar tidak ada kelompok yang bermain memasuki lapangan kelompok lain.
Semua perencanaan tersebut dituangkan dalam RPP (lampiran 4.4) dengan menggunakan gaya mengajar divergen dengan materi pembelajaran aktivitas permainan sepakbola dengan pedekatan taktis.
a.      Pelaksanaan tindakan II
Kegiatan pembelajaran yang berlangsung mengacu pada perencanaan dari hasil refleksi dan observasi yang telah dibuat. Pembelajaran berlangsung pada siswa putra kelas XI IPA 1,2 dan 3 pada hari senin tanggal 15 Oktober 2012 dari pukul 14.00 sampai pukul 15.15 WIB.
Pertama – tama peneliti membuat lapang basket menjadi 6 bagian lapangan kecil dan menyiapkan bola yang akan dipakai, setelah itu peneliti mengumpulkan siswa di lapangan, berdo’a, persensi, apersepsi, menyampaikan ruang lingkup materi pembelajaran aktivitas permainan sepakbola dan menyampaikan tujuan pembelajaran. setelah membuka pembelajaran peneliti membagi siswa menjadi 8 kelompok dikarenakan ada 15 orang siswa yang tidak hadir maka peneliti membagi siswa menjadi 6 kelompok, dan memerintahkan siswa untuk melakukan pemanasan per kelompok di lapangan yang sudah dipersiapkan.
Pada kegiatan pemanasan tiap kelompok melakukan pemanasan dengan caranya masing – masing, kelompok 1 melakukan pemanasan dengan kucing – kucingan dan dilanjutkan dengan pemanasan dinamis, kelompok 2 melakukan pemanasan dinamis lalu dilanjutkan dengan pemanasan statis, melakukan pemanasan dengan cara pemanasan statis dan kucing 6 titik, kelompom 4 melakukan pemanasan statis, dinamis dan jogging, kelompok 5 pemanasan dengan jogging sambil melakukan pemanasan dinamis, kelompok 6 pemanasan dengan statis, dinamis dan dilanjutkan dengna permainan menjala ikan.
Setelah 10 menit pemanasan, peneliti menghentikan kegiatan dan mulai menjelaskan peraturan permainan penguasaan bola 3 vs 3 yang pertama. Setelah menjelaskan peneliti menyuruh siswa untuk memulai permainan. Pada kelompok satu siswa aktif bergerak namun tim lawan dapat menutup pergerakan, kelompok 2 dua orang tim penguasa bola melakukan beberapa pergerakan membuka ruang, kelompok 3 tim penguasa bola kurang aktif dan bola dapat direbut oleh lawan, kelompok 4 tim salah satu siswa melakukan 3 gerakan operan yang berbeda. Di kelompok 5 salah satu siswa melakukan 3 gerakan passing yang berbeda, dan kelompok 6 salah satu siswa melakukan 4 passing yang berbbeda.
Setelah 20 menit, peneliti berkeliling melihat dan mengamati tiap kelompok yang sedang melakukan permainan penguasaan bola, peneliti menghampiri satu per satu kelompok dan melihat ada beberapa siswa dari tiap kelompok yang melakukan gerakan mengoper, mengontrol dan gerakan mendukung pembawa bola yang kreatif, lalu peneliti menghentikan permainan dan memerintahkan kepada siswa – siswa tersebut untuk mempraktekan gerakan mengoper, mengontrol dan mendukung rekan pembawa bola, sehingga dapat dilihat oleh siswa yang lain dan dapat melatih gerakan tersebut untuk menunjang pergerakan pada permainan selanjutnya. Dan seterusnya hingga permainan penguasaan bola yang ke dua.
Setelah kedua permainan penguasaan bola dipraktekan peneliti mengumpulkan siswa dan memberikan motivasi kepada siswa. Peneliti memberikan refleksi dari kegiatan pembelajaran yang telah berlangsung. Peneliti memberikan evaluasi dengan cara memberikan pertanyaan kepada siswa secara random. Setelah itu absensi, berdo’a dan bubar. 
b.      Hasil Pengamatan, observasi refleksi, dan rencana perbaikan
1.      Hasil pengamatan dan observasi
Pada pengamatan yang dilakukan, peneliti mendapatkan beberapa catatan di lapangan tentang kegiatan pembelajaran yang berlangsung. Dari pengamatan tersebut, terdapat beberapa catatan yang perlu dibahas, catatan – catatan tersebut secara garis besar telah ditulis dalam catatan lapangan (lampiran 4.5). Secara singkat catatan – catatan lapangan tersebut, dipaparkan di bawah ini sebagai berikut:
a.       Banyaknya siswa tidak hadir.
b.      Kelompok yang terpecah, sehingga sulit mengamati siswa.
c.       Siswa banyak diam dan kurang aktif dalam melakukan permainan
Disamping hasil catatan – catatan lapangan tersebut, pada bagian ini digambarkan pula skor rata – rata setiap indikator keberhasilan proses pembelajaran hasil observasi pada setiap dimensi/aspek yaitu sbb:
a.       Skor rata – rata tiap indikator untuk aspek afektif dan social
-          Skor rata – rata dari indikator 1 adalah 8.9
-          Skor rata – rata dari indikator 2 adalah 8.6
-          Skor rata – rata dari indikator 3 adalah 9.1
-          Skor rata – rata dari indikator 4 adalah 8.6
-          Skor rata – rata dari indikator 5 adalah 8.9
-          Skor rata – rata untuk keseluruhan indikator adalah 8.81
  1. Skor rata – rata tiap indikator untuk aspek psikomotor:
-          Skor rata – rata dari indikator 1 adalah 6.88
-          Skor rata – rata dari indikator 2 adalah 6.91
-          Skor rata – rata dari indikator 3 adalah 6.97
-          Skor rata – rata dari indikator 4 adalah 6.67
-          Skor rata – rata untuk keseluruhan indikator adalah 6.85
  1. Skor rata – rata tiap indikator untuk aspek kognitif:
-          Skor rata – rata dari indikator 1 adalah 6
-          Skor rata – rata dari indikator 2 adalah 6.5
-          Skor rata – rata dari indicator 3 adalah 6.66
-          Skor rata – rata dari indicator 4 adalah 6.66
-          Skor rata – rata untuk keseluruhan indikator adalah 6.45
2.      Hasil refleksi
Dari beberapa catatan tersebut di atas, peneliti menyimpulkan beberapa kemungkinan yang menjadi penyebab dari pembelajaran yang digambarkan tersebut di atas sebagai berikut:
1.      Kurangnya jam mengajar atau latihan sebelum praktek yang mengakibatkan kegugupan pada peneliti sehingga dalam penyampaian materi kurang jelas.
2.      Kurang jelasnya instruksi dari peneliti sehingga siswa kurang faham apa yang diinstruksikan dan mengakibatkan kurang aktif dalam melakukan pemanasan.
3.      Siswa yang terbiasa dengan model pembelajaran teknis, sehingga pada saat diberikan kebebasan untuk melakukan pemanasan secara kreatif, siswa kebingungan karena tidak adanya contoh dari guru.
4.      Tidak terbiasanya siswa dengan gaya mengajar divergen, sehingga siswa terlihat kurang aktif dan kreatif dalam melakukan permainan, kemungkinan ini terjadi karena terbiasa melakukan pembelajaran dengan cara melatih teknik sehingga dalam aplikasi permaian siswa terpaku pada beberapa teknik pasing saja.     .
Hasil observasi ini akan dijadikan acuan bagi peneliti untuk memperbaiki kegiatan pembelajaran, guna meningkatkan kreatifitas, keaktifan dan minat siswa dalam mengikuti pembelajaran aktivitas permainan sepakbola dan selanjutnya dijadikan acuan untuk menyusun perencanaan.
3.      Perencanaan tindakan III
Berdasarkan hasil refleksi dari pengamatan dan catatan lapangan dari hasil proses pembelajaran yang telah dilakukan pada praktek ke II, selanjutnya peneliti membuat perencanaan untuk pelaksanaan tindakan III dalam pembelajaran aktivitas sepakbola dengan menggunakangaya mengajar divergen.  Pelaksanaan tindakanIII akan disesuaikan dengan permasalahan yang muncul pada pelaksanaan tindakan ke II, dengan menyusun:
1.      Berlatih penyampaian materi sebelum pembelajaran dimulai, sehingga pada saat praktek dilaksanakan peneliti dapat menyampaikan materi dengan jelas dan tidak terputus – putus.
2.      Mempersiapkan kelompk siswa yang bervariasi untuk mengantisipasi jika banyak siswa yang tidak hadir pada tindakan ke III.
3.      Memberikan gambaran pembelajaran dengan menggunakan gaya mengajar divergen kepada siswa pada saat kegiatan pendahuluan sehingga siswa terbiasa untuk lebih aktif dan kreatif dalam pembelajaran.
4.      Mempertegas peraturan, agar siswa bisa bermain di lapangannya tanpa  mengagnggu lapangan kelompok lain dengan memberikan hukuman jika salah satu kelompok masuk ke lapangan kelompok lain.
5.      Mempersiapkan peralatan dan bentuk lapangan yang lebih jelas untuk tiap kelompok agar tidak ada kelompok yang bermain memasuki lapangan kelompok lain.
Semua perencanaan tersebut dituangkan dalam bentuk RPP (lampiran 4.6) dengan menggunakan gaya mengajar divergen dengan materi pembelajaran aktivitas permainan sepakbola dengan pedekatan taktis.
a.         Pelaksanaan tindakan III
Kegiatan pembelajaran yang berlangsung mengacu pada perencanaan dari hasil refleksi dan observasi tindakan II yang telah dibuat. Pembelajaran berlangsung pada siswa putra kelas XI IPA 1,2 dan 3 pada hari senin tanggal 22 Oktober 2012 dari pukul 14.00 sampai pukul 15.15 WIB sebelum pembelajaran turun hujan sehingga lapangan basah dan agak licin.
Pertama – tama peneliti membuat lapang basket menjadi 6 bagian lapangan kecil dan menyiapkan bola yang akan dipakai, setelah itu peneliti mengumpulkan siswa di lapangan, berdo’a, persensi, apersepsi, menyampaikan ruang lingkup materi pembelajaran aktivitas permainan sepakbola dan menyampaikan tujuan pembelajaran. Setelah membuka pembelajaran peneliti membagi siswa menjadi 5 kelompok dikarenakan 8 orang siswa tidak hadir, dan memerintahkan siswa untuk melakukan pemanasan per kelompok di lapangan yang sudah dipersiapkan.
Pada kegiatan pemanasan tiap kelompok melakukan pemanasan dengan caranya masing – masing, kelompok 1 melakukan pemanasan dengan permainan semacam galah asin dengan pemanasan statis, kelompok 2 melakukan pemanasan dinamis dikombinasikan dengan jogging, kelompok 3 melakukan pemanasan dengan cara pemanasan statis dan kucing - kucingan, kelompok 4 melakukan pemanasan statis dan dinamis, kelompok 5 pemanasan dengan kucing- kucingan dan jogging.
Setelah 10 menit pemanasan, peneliti menghentikan kegiatan dan mulai menjelaskan peraturan permainan penguasaan bola 4 vs 4 yang pertama. Setelah menjelaskan peneliti menyuruh siswa untuk memulai permainan. Pada kelompok 1 siswa aktif bergerak dan salah satu siswa melakukan 6 gerakan passing yang berbeda, kelompok 2 dua salah satu siswa melakukan dribbling dan pasing dengan 3 gerakan yang berbeda , kelompok 3 tim penguasa bola kurang aktif dan bola dapat direbut oleh lawan dan begitu juga sebaliknya. Kelompok 4 tim salah satu siswa dapat melewati 2 pemain lawan dan melakukan operan dengan backhell. Di kelompok 5 salah satu siswa melakukan 3 gerakan passing yang berbeda.
Setelah 20 menit, peneliti berkeliling melihat dan mengamati tiap kelompok yang sedang melakukan permainan penguasaan bola, peneliti menghampiri satu per satu kelompok dan melihat ada beberapa siswa dari tiap kelompok yang melakukan gerakan mengoper, mengontrol dan gerakan mendukung pembawa bola yang kreatif, lalu peneliti menghentikan permainan dan memerintahkan kepada siswa – siswa tersebut untuk mempraktekan gerakan mengoper, mengontrol dan mendukung rekan pembawa bola, sehingga dapat dilihat oleh siswa yang lain dan dapat melatih gerakan tersebut untuk menunjang pergerakan pada permainan selanjutnya. Dan seterusnya hingga permainan penguasaan bola yang ke dua.
Setelah kedua permainan penguasaan bola dipraktekan peneliti mengumpulkan siswa dan memberikan motivasi kepada siswa. Peneliti memberikan refleksi dari kegiatan pembelajaran yang telah berlangsung. Peneliti memberikan evaluasi dengan cara memberikan pertanyaan kepada siswa secara random. Setelah itu absensi, berdo’a dan bubar. 
b.      Hasil pengamatan dan Observasi
Pada pengamatan yang dilakukan, peneliti mendapatkan beberapa catatan di lapangan tentang kegiatan pembelajaran yang berlangsung. Dari pengamatan tersebut, terdapat beberapa catatan yang perlu dibahas, catatan – catatan tersebut secara garis besar telah ditulis dalam catatan lapangan (lampiran 4.7). Secara singkat catatan – catatan lapangan tersebut, dipaparkan di bawah ini sebagai berikut:
a.       Adanya 8 orang siswa yang tidak hadir
b.      Penempatan corong di tiap kelompok yang belum maksimal sehingga dapat menyulitkan siswa mencetak skor karena slalu bergeser.
c.       Masih ada 2 kelompok yang pasif dalam melakukan pemanasan.
d.      Hujan yang turun sebelum pembelajaran, sehingga siswa pasif dan  berhati – hati dalam permainan.
Disamping hasil catatan – catatan lapangan tersebut, pada bagian ini digambarkan pula skor rata – rata setiap indikator keberhasilan proses pembelajaran hasil observasi pada setiap dimensi/aspek yaitu sbb:
a.       Skor rata – rata tiap indikator untuk aspek afektif dan social:
-          Skor rata – rata dari indikator 1 adalah 9.73
-          Skor rata – rata dari indikator 2 adalah 9.76
-          Skor rata – rata dari indikator 3 adalah 9.88
-          Skor rata – rata dari indikator 4 adalah 10
-          Skor rata – rata dari indikator 5 adalah 9.63
-          Skor rata – rata untuk keseluruhan indikator adalah 9.78
b.      Skor rata – rata tiap indikator untuk aspek psikomotor:
-          Skor rata – rata dari indikator 1 adalah 7.25
-          Skor rata – rata dari indikator 2 adalah 7.03
-          Skor rata – rata dari indikator 3 adalah 7.1
-          Skor rata – rata dari indikator 4 adalah 7.23
-          Skor rata – rata untuk keseluruhan indikator adalah 7.15
c.       Skor rata – rata tiap indikator untuk aspek kognitif:
-          Skor rata – rata dari indikator 1 adalah 7
-          Skor rata – rata dari indikator 2 adalah 7
-          Skor rata – rata dari indikator 3 adalah 7
-          Skor rata – rata dari indikator 4 adalah 6.5
-          Skor rata – rata untuk keseluruhan indikator adalah 6.87
c.       Hasil Refleksi
Dari beberapa catatan tersebut di atas, peneliti menyimpulkan beberapa kemungkinan yang menjadi penyebab dari pembelajaran yang digambarkan tersebut di atas sebagai berikut:
1.      Petunjuk dari peneliti yang kurang jelas dalam penempatan sehingga siswa menyimpan corong kurang tepat sehingga seringkali bergeser karena tertendang.
2.      Lapangan yang sempit sehingga siswa kebingungan untuk menyimpan corong dalam permainan.
3.      Pembagian kelompok yang baru, sehingga kemungkinan siswa kembali canggung dalam mencari cara pemanasan yang aktif dan kreatif.
4.      Siswa yang terbiasa dengan model pembelajaran teknis, sehingga pada saat diberikan kebebasan untuk melakukan pemanasan secara kreatif, siswa kebingungan karena tidak adanya contoh dari guru.
Berkaitan dengan variable yang dikaji dalam penelitian ini adalah implementasi gaya mengajar, mka rencana perbaikan PBM berikutnya terutama difokuskan pada meningkatkan kreatifitas dan keaktifan siswa, sebagai ciri dari penerapan gaya mengajar divergent. Hal – hal yang diperbaiki dalam PBM berikutnya sebagai hasil refleksi dan focus penelitian sebagai berikut.
d.      Perencanaan tindakan IV
Berdasarkan hasil refleksi dari pengamatan dan catatan lapangan dari hasil proses pembelajaran yang telah dilakukan pada tindakan ke III, selanjutnya peneliti membuat perencanaan untuk pelaksanaan tindakan ke IV dalam pembelajaran aktivitas sepakbola dengan menggunakan gaya mengajar divergen.  Pelaksanaan tindakan ke IV akan disesuaikan dengan permasalahan yang muncul pada pelaksanaan tindakan pembelajaran yang III, dengan menyusun:
1.      Mempersiapkan kelompk siswa yang bervariasi untuk mengantisipasi jika banyak siswa yang tidak hadir pada tindakan ke IV.
2.      Memberikan gambaran pembelajaran dengan menggunakan gaya mengajar divergen kepada siswa pada saat kegiatan pendahuluan.
3.      Mempertegas peraturan, agar siswa bias bermain di lapangannya tanpa  mengganggu lapangan kelompok lain dengan memberikan hukuman jika salah satu kelompok masuk ke lapangan kelompok lain.
4.      Mempersiapkan peralatan dan bentuk lapangan yang lebih jelas untuk tiap kelompok agar tidak ada kelompok yang bermain memasuki lapangan kelompok lain.
5.      Memberikan instruksi penyimpanan corong dalam permainan sehingga dapat maksimal dipergunakan.
Semua perencanaan tersebut dituangkan dalam RPP (lampiran 4.8) dengan menggunakan gaya mengajar divergen dengan materi pembelajaran aktivitas permainan sepakbola dengan pedekatan taktis.
a.      Pelaksanaan tindakan IV
Kegiatan pembelajaran yang berlangsung mengacu pada perencanaan dari hasil refleksi dan observasi tindakan III yang telah dibuat. Pembelajaran berlangsung pada siswa putra kelas XI IPA 1,2 dan 3 pada hari senin tanggal 29 Oktober 2012 pukul 14.00.
Pertama – tama peneliti membuat lapang basket menjadi 4 bagian lapangan, setelah itu peneliti mengumpulkan siswa di lapangan, berdo’a, persensi, apersepsi, menyampaikan ruang lingkup materi pembelajaran aktivitas permainan sepakbola dan menyampaikan tujuan pembelajaran. Setelah membuka pembelajaran peneliti membagi siswa menjadi 3 kelompok dikarenakan 21 orang siswa tidak hadir dan memerintahkan siswa untuk melakukan pemanasan per kelompok di lapangan yang sudah dipersiapkan.
Pada kegiatan pemanasan tiap kelompok melakukan pemanasan dengan caranya masing – masing, kelompok 1 melakukan pemanasan statis dan dinamis sambil jogging di lapangannya. Kelompok 2 melakukan pemanasan dengan permainan hitam hijau dan dilanjutkan dengan pemanasan dinamis dinamis.  Kelompok 3 melakukan pemanasan dengan cara kucing – kucingan dan jogging..
Setelah 10 menit pemanasan, peneliti menghentikan kegiatan dan mulai menjelaskan peraturan permainan penguasaan bola 4 vs 4 yang pertama dan membagikan corong. Setelah menjelaskan peneliti menyuruh siswa untuk memulai permainan. Pada kelompok 1 empat tim penguasa bola melakukan pasing dengan cara yang berbeda secara bergantian, kelompok 2 dua salah satu siswa melakukan 4 gerakan membantu rekan pembawa bola, kelompok 3 tim seorang siswa melakukan passing dengan 6 cara yang berbeda dan dua rekannya melakukan pergerakan untuk membuka ruang. Lalu peneliti memberikan pertanyaan untuk mengelaborasi dan merangsang respon siswa.
Setelah 18 menit, peneliti menghentikan permainan dan peneliti menghampiri kelompok dua dan memerintahkan kepada siswa – siswa tersebut untuk mempraktekan gerakan mengoper, mengontrol dan mendukung rekan pembawa bola, sehingga dapat dilihat oleh siswa yang lain dan dapat melatih gerakan tersebut untuk menunjang pergerakan pada permainan selanjutnya.
Setelah 10 menit drill teknik, peneliti menghentikan kegiatan dan mulai menjelaskan peraturan permainan penguasaan bola 4 vs 4 yang kedua. Setelah menjelaskan peneliti menyuruh siswa untuk memulai permainan. Pada kelompok 1 playmaker melakukan empat kali umpan 1 dan 2 sebanyak 4 kali dan dapat mencetak skor. Kelompok 2 playmaker melakukan 5 gerakan passing dalam permainan. Kelompok 3 tim bola sering terebut dan kesulitan mencetak skor. Lalu peneliti memberikan pertanyaan untuk mengelaborasi dan merangsang respon siswa.
Setelah kedua permainan penguasaan bola dipraktekan peneliti mengumpulkan siswa dan memberikan motivasi kepada siswa. Peneliti memberikan refleksi dari kegiatan pembelajaran yang telah berlangsung. Peneliti memberikan evaluasi dengan cara memberikan pertanyaan lisan kepada siswa secara random. Setelah itu absensi, berdo’a dan bubar. 
b.      Hasil pengamatan dan Observasi
Pada pengamatan yang dilakukan, peneliti mendapatkan beberapa catatan di lapangan tentang kegiatan pembelajaran yang berlangsung. Dari pengamatan tersebut, terdapat beberapa catatan yang perlu dibahas, catatan – catatan tersebut secara garis besar telah ditulis dalam catatan lapangan (lampiran 4.9). Secara singkat catatan – catatan lapangan tersebut, dipaparkan di bawah ini sebagai berikut:
a.       Adanya 21 orang siswa yang tidak hadir
b.      Penempatan corong di tiap kelompok yang belum maksimal sehingga dapat menyulitkan siswa mencetak skor karena slalu bergeser.
c.       Masih ada 1 kelompok yang kurang kreatif dalam melakukan permainan.
Disamping hasil catatan – catatan lapangan tersebut, pada bagian ini digambarkan pula skor rata – rata setiap indikator keberhasilan proses pembelajaran hasil observasi pada setiap dimensi/aspek yaitu sbb:
a.       Skor rata – rata tiap indikator untuk aspek afektif dan social:
-          Skor rata – rata dari indikator 1 adalah10
-          Skor rata – rata dari indikator 2 adalah 10
-          Skor rata – rata dari indikator 3 adalah 10
-          Skor rata – rata dari indikator 4 adalah 10
-          Skor rata – rata dari indikator 5 adalah 9
-          Skor rata – rata untuk keseluruhan indikator adalah 9.85
b.      Skor rata – rata tiap indikator untuk aspek psikomotor:
-          Skor rata – rata dari indikator 1 adalah 8
-          Skor rata – rata dari indikator 2 adalah 8
-          Skor rata – rata dari indikator 3 adalah 8
-          Skor rata – rata dari indikator 4 adalah 8
-          Skor rata – rata untuk keseluruhan indikator 8.05
c.       Skor rata – rata tiap indikator untuk aspek kognitif:
-          Skor rata – rata dari indikator 1 adalah 8
-          Skor rata – rata dari indikator 2 adalah 7
-          Skor rata – rata dari indikator 3 adalah 8
-          Skor rata – rata dari indikator 4 adalah 7.33
-          Skor rata – rata untuk keseluruhan indikator adalah 7.58
c.       Hasil Refleksi
Dari beberapa catatan tersebut di atas, peneliti menyimpulkan beberapa kemungkinan yang menjadi penyebab dari pembelajaran yang digambarkan tersebut di atas sebagai berikut:
1.      Kurangnya penekanan yang diberikan kepada siswa oleh peneliti sebelum pembelajaran berlangsung, untuk mengajak teman – temannya yang tidak hadir.
2.      Kurang tegasnya peraturan yang diberikan peneliti sehingga siswa menganggap pembelajaran yang dilaksanakan tidak termasuk kedalam absen harian siswa
3.      Siswa yang terbiasa dengan model pembelajaran teknis, sehingga pada saat diberikan kebebasan untuk melakukan pemanasan secara kreatif, siswa kebingungan karena tidak adanya contoh dari guru.
Berkaitan dengan variable yang dikaji dalam penelitian ini adalah implementasi gaya mengajar, mka rencana perbaikan PBM berikutnya terutama difokuskan pada meningkatkan kreatifitas dan keaktifan siswa, sebagai ciri dari penerapan gaya mengajar divergent. Hal – hal yang diperbaiki dalam PBM berikutnya sebagai hasil refleksi dan focus penelitian sebagai berikut.
d.      Perencanaan tindakan V
Berdasarkan hasil refleksi dari pengamatan dan catatan lapangan dari hasil proses pembelajaran yang telah dilakukan pada tindakan ke IV, selanjutnya peneliti membuat perencanaan untuk pelaksanaan tindakan ke V dalam pembelajaran aktivitas sepakbola dengan menggunakan gaya mengajar divergen.  Pelaksanaan tindakan ke V akan disesuaikan dengan permasalahan yang muncul pada pelaksanaan tindakan pembelajaran yang IV, dengan menyusun:
1.      Mempersiapkan kelompok siswa yang bervariasi untuk mengantisipasi jika banyak siswa yang tidak hadir pada tindakan ke 5.
2.      Memberikan gambaran pembelajaran dengan menggunakan gaya mengajar divergen kepada siswa pada saat kegiatan pendahuluan.
3.      Mempertegas peraturan agar bahwa pembelajaran yang berlangsung tetap dihitung dalam absensi harian dan nilai – nilai yang didapat dari observasi akan diserahkan juga kepada guru penjaskes.
4.      Menghimbau siswa untuk mengajak rekannya untuk hadir dalam kegiatan pembelajaran.
5.      Mempertegas peraturan, agar siswa bisa bermain di lapangannya tanpa  mengganggu lapangan kelompok lain dengan memberikan hukuman jika salah satu kelompok masuk ke lapangan kelompok lain.
6.      Mempersiapkan peralatan dan bentuk lapangan yang lebih jelas untuk tiap kelompok agar tidak ada kelompok yang bermain memasuki lapangan kelompok lain.
7.      Memberikan instruksi penyimpanan corong dalam permainan sehingga dapat maksimal dipergunakan.
Semua perencanaan tersebut dituangkan dalam RPP (lampiran 4.8) menggunakan gaya mengajar divergen dengan materi pembelajaran aktivitas permainan sepakbola dengan pedekatan taktis.
a.      Pelaksanaan tindakan V
Kegiatan pembelajaran yang berlangsung mengacu pada perencanaan dari hasil refleksi dan observasi tindakan IV yang telah dibuat. Pembelajaran berlangsung pada siswa putra kelas XI IPA 1,2 dan 3 pada hari senin tanggal 5 November 2012 pukul 14.00.
Pertama – tama peneliti membuat lapang basket menjadi 4 bagian lapangan, setelah itu peneliti mengumpulkan siswa di lapangan, berdo’a, persensi, apersepsi, menyampaikan ruang lingkup materi pembelajaran aktivitas permainan sepakbola dan menyampaikan tujuan pembelajaran. Setelah membuka pembelajaran peneliti membagi siswa menjadi 3 kelompok dikarenakan 19 orang siswa tidak hadir dan memerintahkan siswa untuk melakukan pemanasan per kelompok di lapangan yang sudah dipersiapkan.
Pada kegiatan pemanasan tiap kelompok melakukan pemanasan dengan caranya masing – masing, kelompok 1 melakukan pemanasan statis dan dinamis sambil jogging di lapangannya. Kelompok 2 melakukan pemanasan dengan permainan kucing - kucingan.  Kelompok 3 melakukan pemanasan dengan cara kucing – kucingan dan jogging..
Setelah 10 menit pemanasan, peneliti menghentikan kegiatan dan mulai menjelaskan peraturan permainan penguasaan bola 5 vs 5 yang pertama dan membagikan corong. Setelah menjelaskan peneliti menyuruh siswa untuk memulai permainan, pada kelompok 3 hanya terdapat 9 orang sehingga peneliti memerintahakan salah satu siswa menjadi joker.
Pada kelompok 3 keempat orang tim penguasa bola melakukan umpa tik – tak dan salah satu siswa melakukan juggling da melakukan tendangan voly mendatar. Kelompok 1 salah satu siswa melakukan 5 gerakan membantu rekan pembawa bola, kelompok 2 keempat siswa dalam tim penguasa bola melakukan pergerakan. Lalu peneliti memberikan pertanyaan untuk mengelaborasi dan merangsang respon siswa.
Setelah 20 menit, peneliti menghentikan permainan dan peneliti memerintahkan kepada siswa untuk melatih teknik mengoper, mengontrol dan mendukung rekan pembawa bola, untuk menunjang pergerakan pada permainan selanjutnya.     Pada kelompok 1 melakukan drill  gerak tipu dengan mengoper boa ke sela – sela kaki rekan se tim. Kelompok 2 melakukan drill passing dan membuka ruang.
Setelah 10 menit drill teknik, peneliti menghentikan kegiatan dan mulai menjelaskan peraturan permainan penguasaan bola 5 vs 5 yang kedua. Setelah menjelaskan peneliti menyuruh siswa untuk memulai permainan. Pada kelompok 1 targetman melakukan 6 gerakan menendang namun tidak ada yang masuk.. Kelompok 3 melakukan umpan 1 dan 2 dan targetman dapat menceploskan bola . Kelompok 3 salah satu siswa melakukan 7 gerakan membatu rekan pembawa bola. Lalu peneliti memberikan pertanyaan untuk mengelaborasi dan merangsang respon siswa.
Setelah kedua permainan penguasaan bola dipraktekan peneliti mengumpulkan siswa dan memberikan motivasi kepada siswa. Peneliti memberikan refleksi dari kegiatan pembelajaran yang telah berlangsung. Peneliti memberikan evaluasi dengan cara memberikan pertanyaan lisan kepada siswa secara random. Setelah itu absensi, berdo’a dan bubar. 
b.      Hasil pengamatan dan Observasi
Pada pengamatan yang dilakukan, peneliti mendapatkan beberapa catatan di lapangan tentang kegiatan pembelajaran yang berlangsung. Dari pengamatan tersebut, terdapat beberapa catatan yang perlu dibahas, catatan – catatan tersebut secara garis besar telah ditulis dalam catatan lapangan (lampiran 4.9). Secara singkat catatan – catatan lapangan tersebut, dipaparkan di bawah ini sebagai berikut:
a.       Masih banyaknya siswa yang tidak hadir yaitu 19 orang siswa
b.      Penempatan corong di tiap kelompok yang belum maksimal sehingga dapat menyulitkan siswa mencetak skor karena slalu bergeser.
c.       Masih ada 1 kelompok yang kurang kreatif dalam melakukan permainan.
Disamping hasil catatan – catatan lapangan tersebut, pada bagian ini digambarkan pula skor rata – rata setiap indikator keberhasilan proses pembelajaran hasil observasi pada setiap dimensi/aspek yaitu sbb:
a.       Skor rata – rata tiap indikator untuk aspek afektif dan social :
-          Skor rata – rata dari indikator 1 adalah 10
-          Skor rata – rata dari indikator 2adalah 9,83
-          Skor rata – rata dari indikator 3 adalah 10
-          Skor rata – rata dari indikator 4 adalah 10
-          Skor rata – rata dari indikator 5 adalah 9.66
-          Skor rata – rata untuk keseluruhan indikator 9.89
b.      Skor rata – rata tiap indikator untuk aspek psikomotor:
-          Skor rata – rata dari indikator 1 adalah 8
-          Skor rata – rata dari indikator 2 adalah 7.7
-          Skor rata – rata dari indikator 3 adalah 7.6
-          Skor rata – rata dari indikator 4 adalah 7.8
-          Skor rata – rata untuk keseluruhan indikator 7.78
c.       Skor rata – rata tiap indikator untuk aspek psikomotor:
-          Skor rata – rata dari indikator 1 adalah 8
-          Skor rata – rata dari indikator 2 adalah 7.5
-          Skor rata – rata dari indikator 3 adalah 7.5
-          Skor rata – rata dari indikator 4 adalah 8
-          Skor rata – rata untuk keseluruhan indikator adalah 7.75
c.       Hasil Refleksi
Dari beberapa catatan tersebut di atas, peneliti menyimpulkan beberapa kemungkinan yang menjadi penyebab dari pembelajaran yang digambarkan tersebut di atas sebagai berikut:
1.      Kurangnya penekanan yang diberikan kepada siswa oleh peneliti sebelum pembelajaran berlangsung, untuk mengajak teman – temannya yang tidak hadir.
2.      Kurang tegasnya peraturan yang diberikan peneliti sehingga siswa menganggap pembelajaran yang dilaksanakan tidak termasuk kedalam absen harian siswa
Berkaitan dengan variable yang dikaji dalam penelitian ini adalah implementasi gaya mengajar, mka rencana perbaikan PBM berikutnya terutama difokuskan pada meningkatkan kreatifitas dan keaktifan siswa, sebagai ciri dari penerapan gaya mengajar divergent. Hal – hal yang diperbaiki dalam PBM berikutnya sebagai hasil refleksi dan focus penelitian sebagai berikut.
d.      Perencanaan tindakan VI
Berdasarkan hasil refleksi dari pengamatan dan catatan lapangan dari hasil proses pembelajaran yang telah dilakukan pada tindakan ke V, selanjutnya peneliti membuat perencanaan untuk pelaksanaan tindakan ke VI dalam pembelajaran aktivitas sepakbola dengan menggunakan gaya mengajar divergen.  Pelaksanaan tindakan ke VI akan disesuaikan dengan permasalahan yang muncul pada pelaksanaan tindakan pembelajaran yang V, dengan menyusun:
1.      Mempersiapkan kelompok siswa yang bervariasi untuk mengantisipasi jika banyak siswa yang tidak hadir pada tindakan ke VI.
2.      Memberikan gambaran pembelajaran dengan menggunakan gaya mengajar divergen kepada siswa pada saat kegiatan pendahuluan.
3.      Mempertegas peraturan, agar siswa bisa bermain di lapangannya tanpa  mengganggu lapangan kelompok lain dengan memberikan hukuman jika salah satu kelompok masuk ke lapangan kelompok lain.
4.      Mempertegas peraturan agar bahwa pembelajaran yang berlangsung tetap dihitung dalam absensi harian dan nilai – nilai yang didapat dari observasi akan diserahkan juga kepada guru penjaskes.
5.      Menghimbau siswa agar mengajak rekannya untuk hadir dalam kegiatan pembelajaran.
6.      Mempersiapkan peralatan dan bentuk lapangan yang lebih jelas untuk tiap kelompok agar tidak ada kelompok yang bermain memasuki lapangan kelompok lain.
7.      Memberikan instruksi penyimpanan corong dalam permainan sehingga dapat maksimal dipergunakan.
Semua perencanaan tersebut dituangkan dalam RPP menggunakan gaya mengajar divergen dengan materi pembelajaran aktivitas permainan sepakbola dengan pedekatan taktis.
a.      Pelaksanaan tindakan VI
Kegiatan pembelajaran yang berlangsung mengacu pada perencanaan dari hasil refleksi dan observasi tindakan VI yang telah dibuat. Pembelajaran berlangsung pada siswa putra kelas XI IPA 1,2 dan 3 pada hari senin tanggal 12 November 2012 pukul 14.00, kali ini pembelajaran dilaksanakan di lapangan sepakbola karena lapangan basket dipergunakan kegiatan organisasi dan juga rumput yang ada sudah dipangkas.
Peneliti mengumpulkan siswa di lapangan, berdo’a, persensi, apersepsi, menyampaikan ruang lingkup materi pembelajaran aktivitas permainan sepakbola dan menyampaikan tujuan pembelajaran. Setelah membuka pembelajaran peneliti memerintahkan siswa membuat lapangan dan membagi siswa menjadi 4 kelompok. Setelah diberikan penekanan siswa yang tidak hadir kali ini hanya 8 orang. Setelah itu peneliti memerintahkan siswa untuk melakukan pemanasan per kelompok di lapangan yang sudah dipersiapkan.
Pada kegiatan pemanasan tiap kelompok melakukan pemanasan dengan caranya masing – masing, kelompok 1 melakukan pemanasan statis dan permainan galah asin. Kelompok 2 melakukan pemanasan dengan permainan kucing 9 titik.  Kelompok 3 melakukan pemanasan dengan cara statis dan dinamis dilanjutkan dengan jogging. Kelompok 4 pemanasan statis dan kucing lumpat.
Setelah 10 menit pemanasan, peneliti menghentikan kegiatan dan mulai menjelaskan peraturan permainan penguasaan bola 5 vs 5 yang pertama dan membagikan corong. Setelah menjelaskan peneliti menyuruh siswa untuk memulai permainan,
Pada kelompok 4 salah satu siswa melakukan 6 gerakan mendukung pembawa bola dan salah satu siswa lainnya melakukan 5 gerakan passing yang berbedea secara berurutan. Kelompok 1 salah satu siswa melakukan 3 gerakan menendang bola karena bola yang memantul kembali ke penendang 3 kali berturut – turut. Kelompok 2 tiga oranga siswa dalam tim penguasa bola melakukan pergerakan dan salah satu siswa melakukan umpan chop kepada rekannya.Kelompok 3 semua pemain tim penguasa bola melakukan umpan1 dan 2 . Lalu peneliti memberikan pertanyaan untuk mengelaborasi dan merangsang respon siswa.
Setelah 20 menit, peneliti menghentikan permainan dan peneliti memerintahkan kepada siswa untuk melatih teknik mengoper, mengontrol dan mendukung rekan pembawa bola, untuk menunjang pergerakan pada permainan selanjutnya.     Pada kelompok 1 melakukan drill  gerakan operan diselingi oleh covering oleh lawan. Kelompok 2 melakukan drill backhell dan membuka ruang. Kelompok 3 melakukan drill operan 4 arah.
Setelah 10 menit drill teknik, peneliti menghentikan kegiatan dan mulai menjelaskan peraturan permainan penguasaan bola 5 vs 5 yang kedua. Setelah menjelaskan peneliti menyuruh siswa untuk memulai permainan.
 Pada kelompok 1 targetman melakukan 6 gerakan menendang namun tidak ada yang masuk.. Kelompok 3 melakukan umpan 1 dan 2 dan targetman dapat menceploskan bola . Kelompok 3 salah satu siswa melakukan 7 gerakan membatu rekan pembawa bola. Lalu peneliti memberikan pertanyaan untuk mengelaborasi dan merangsang respon siswa.
Setelah kedua permainan penguasaan bola dipraktekan peneliti mengumpulkan siswa dan memberikan motivasi kepada siswa. Peneliti memberikan refleksi dari kegiatan pembelajaran yang telah berlangsung. Peneliti memberikan evaluasi dengan cara memberikan pertanyaan lisan kepada siswa secara random. Setelah itu absensi, berdo’a dan bubar. 


b.      Hasil pengamatan dan Observasi
Pada pengamatan yang dilakukan, peneliti mendapatkan beberapa catatan di lapangan tentang kegiatan pembelajaran yang berlangsung. Dari pengamatan tersebut, terdapat beberapa catatan yang perlu dibahas, catatan – catatan tersebut secara garis besar telah ditulis dalam catatan lapangan (lampiran ke 4.10). Secara singkat catatan – catatan lapangan tersebut, dipaparkan di bawah ini sebagai berikut:
a.       Penempatan corong di tiap kelompok yang telah maksimal dan tidak mudah bergeser.
Disamping hasil catatan – catatan lapangan tersebut, pada bagian ini digambarkan pula skor rata – rata setiap indikator keberhasilan proses pembelajaran hasil observasi pada setiap dimensi/aspek yaitu sbb:
a.       Skor rata – rata tiap indikator untuk aspek afektif dan social :
-          Skor rata – rata dari indikator 1 adalah 10
-          Skor rata – rata dari indikator 2 adalah 10
-          Skor rata – rata dari indikator 3 adalah 10
-          Skor rata – rata dari indikator 4 adalah 10
-          Skor rata – rata dari indikator 5 adalah 10
-          Skor rata – rata untuk keseluruhan indikator 10

b.      Skor rata – rata tiap indikator untuk aspek psikomotor:
-          Skor rata – rata dari indikator 1 adalah 8
-          Skor rata – rata dari indikator 2 adalah 8
-          Skor rata – rata dari indikator 3 adalah 8
-          Skor rata – rata dari indikator 4 adalah 8
-          Skor rata – rata untuk keseluruhan indikator 8
c.       Skor rata – rata tiap indikator untuk aspek kognitif:
-          Skor rata – rata dari indikator 1 adalah 8
-          Skor rata – rata dari indikator 2 adalah 8
-          Skor rata – rata dari indikator 3 adalah 8.4
-          Skor rata – rata dari indikator 4 adalah 9
-          Skor rata – rata untuk keseluruhan indikator adalah 8.35
c.       Hasil Refleksi
Dari beberapa catatan tersebut di atas, peneliti menyimpulkan beberapa kemungkinan yang menjadi penyebab dari pembelajaran yang digambarkan tersebut di atas sebagai berikut:
1.      Kurangnya penekanan yang diberikan kepada siswa oleh peneliti sebelum pembelajaran berlangsung, untuk mengajak teman – temannya yang tidak hadir.
2.      Kurang tegasnya peraturan yang diberikan peneliti sehingga siswa menganggap pembelajaran yang dilaksanakan tidak termasuk kedalam absen harian siswa
Berkaitan dengan variable yang dikaji dalam penelitian ini adalah implementasi gaya mengajar, maka rencana perbaikan PBM berikutnya terutama difokuskan pada meningkatkan kreatifitas dan keaktifan siswa, sebagai ciri dari penerapan gaya mengajar divergent. Hal – hal yang diperbaiki dalam PBM berikutnya sebagai hasil refleksi dan focus penelitian sebagai berikut.
  1. Analisis Hasil penelitian
Dalam hasil analisis penelitian ini, membahas setiap tindakan dan apa yang ditemukan selama pelaksanaan tindakan mulai dari tindakan I sampai ke VI. Pada pelaksanaan tindakan I peneliti menemukan permasalahan yaitu: 1. Kurang jelasnya suara peneliti sehingga siswa menginterupsi peneliti saat menyampaikan materi, 2. Siswa melakukan operan tidak akurat sehingga bola keluar lapangan permainannya dan membahayakan pada kelompok lain karena bola masuk ke lapangan kelompok lain, 3. Adanya 10 orang siswa yang tidak hadir karena dispensasi kegiatan organisasi 4. Siswa pasif dalam melakukan pemanasan, 5. Siswa banyak diam dan kurang aktif dalam melakukan permainan. Terkait dengan permasalahan tersebut maka direfleksikan dengan cara : 1. Berlatih penyampaian materi sebelum pembelajaran dimulai, sehingga pada saat praktek dilaksanakan peneliti dapat menyampaikan materi dengan jelas dan tidak terputus – putus, 2. Mempersiapkan kelompok siswa yang bervariasi untuk mengantisipasi jika banyak siswa yang tidak hadir pada tindakan ke 2, 3. Memberikan gambaran pembelajaran dengan menggunakan gaya mengajar divergen kepada siswa pada saat kegiatan pendahuluan sehingga siswa terbiasa untuk lebih aktif dan kreatif dalam pembelajaran, 4. Mempertegas peraturan, agar siswa bias bermain di lapangannya tanpa  mengagnggu lapangan kelompok lain dengan memberikan hukuman jika salah satu kelompok masuk ke lapangan kelompok lain, 5. Mempersiapkan peralatan dan bentuk lapangan yang lebih jelas untuk tiap kelompok agar tidak ada kelompok yang bermain memasuki lapangan kelompok lain
Pada pelaksanaan tindakan II, peneliti kembali menemukan permasalahan dalam kegiatan pembelajaran yaitu: 1.  Kurangnya jam mengajar atau latihan sebelum praktek yang mengakibatkan kegugupan pada peneliti sehingga dalam penyampaian materi kurang jelas, 2. Kurang jelasnya instruksi dari peneliti sehingga siswa kurang faham apa yang diinstruksikan dan mengakibatkan kurang aktif dalam melakukan pemanasan, 3. Siswa yang terbiasa dengan model pembelajaran teknis, sehingga pada saat diberikan kebebasan untuk melakukan pemanasan secara kreatif, siswa kebingungan karena tidak adanya contoh dari guru, 4. Tidak terbiasanya siswa dengan gaya mengajar divergen, sehingga siswa terlihat kurang aktif dan kreatif dalam melakukan permainan, kemungkinan ini terjadi karena terbiasa melakukan pembelajaran dengan cara melatih teknik sehingga dalam aplikasi permaian siswa terpaku pada beberapa teknik pasing saja.
 Terkait dengan permasalahan tersebut maka direfleksikan dengan cara:1. Berlatih penyampaian materi sebelum pembelajaran dimulai, sehingga pada saat praktek dilaksanakan peneliti dapat menyampaikan materi dengan jelas dan tidak terputus – putus, 2.Mempersiapkan kelompok siswa yang bervariasi untuk mengantisipasi jika banyak siswa yang tidak hadir pada tindakan ke III, 3.Memberikan gambaran pembelajaran dengan menggunakan gaya mengajar divergen kepada siswa pada saat kegiatan pendahuluan sehingga siswa terbiasa untuk lebih aktif dan kreatif dalam pembelajaran, 4. Mempertegas peraturan, agar siswa bisa bermain di lapangannya tanpa  mengagnggu lapangan kelompok lain dengan memberikan hukuman jika salah satu kelompok masuk ke lapangan kelompok lain, 5. Mempersiapkan peralatan dan bentuk lapangan yang lebih jelas untuk tiap kelompok agar tidak ada kelompok yang bermain memasuki lapangan kelompok lain.
Pada pelaksanaan tindakan III, peneliti kembali menemukan permasalahan dalam kegiatan pembelajaran yaitu: 1.  Petunjuk dari peneliti yang kurang jelas dalam penempatan sehingga siswa menyimpan corong kurang tepat sehingga seringkali bergeser karena tertendang, 2. Lapangan yang sempit sehingga siswa kebingungan untuk menyimpan corong dalam permainan, 3. Pembagian kelompok yang baru, sehingga kemungkinan siswa kembali canggung dalam mencari cara pemanasan yang aktif dan kreatif, 4. Siswa yang terbiasa dengan model pembelajaran teknis, sehingga pada saat diberikan kebebasan untuk melakukan pemanasan secara kreatif, siswa kebingungan karena tidak adanya contoh dari guru.
 Terkait dengan permasalahan tersebut maka direfleksikan dengan cara:1. Berlatih penyampaian materi sebelum pembelajaran dimulai, sehingga pada saat praktek dilaksanakan peneliti dapat menyampaikan materi dengan jelas dan tidak terputus – putus, 2.Mempersiapkan kelompok siswa yang bervariasi untuk mengantisipasi jika banyak siswa yang tidak hadir pada tindakan ke IV, 3.Memberikan gambaran pembelajaran dengan menggunakan gaya mengajar divergen kepada siswa pada saat kegiatan pendahuluan sehingga siswa terbiasa untuk lebih aktif dan kreatif dalam pembelajaran, 4. Mempertegas peraturan, agar siswa bisa bermain di lapangannya tanpa  mengganggu lapangan kelompok lain dengan memberikan hukuman jika salah satu kelompok masuk ke lapangan kelompok lain, 5. Mempersiapkan peralatan dan bentuk lapangan yang lebih jelas untuk tiap kelompok agar tidak ada kelompok yang bermain memasuki lapangan kelompok lain.
Pada pelaksanaan tindakan IV, peneliti kembali menemukan permasalahan dalam kegiatan pembelajaran yaitu: 1. Adanya 21 orang siswa yang tidak hadir, 2. Penempatan corong di tiap kelompok yang belum maksimal sehingga dapat menyulitkan siswa mencetak skor karena slalu bergeser, 3. Masih ada 1 kelompok yang kurang kreatif dalam melakukan permainan.
Terkait dengan permasalahan tersebut maka direfleksikan dengan cara: 1. Berlatih penyampaian materi sebelum pembelajaran dimulai, sehingga pada saat praktek dilaksanakan peneliti dapat menyampaikan materi dengan jelas dan tidak terputus – putus, 2.Mempersiapkan kelompok siswa yang bervariasi untuk mengantisipasi jika banyak siswa yang tidak hadir pada tindakan ke V, 3.Memberikan gambaran pembelajaran dengan menggunakan gaya mengajar divergen kepada siswa pada saat kegiatan pendahuluan sehingga siswa terbiasa untuk lebih aktif dan kreatif dalam pembelajaran, 4. Mempertegas peraturan agar bahwa pembelajaran yang berlangsung tetap dihitung dalam absensi harian dan nilai – nilai yang didapat dari observasi akan diserahkan juga kepada guru penjaskes, 5. Menghimbau siswa agar mengajak rekannya untuk hadir dalam kegiatan pembelajaran, 6. Memberikan instruksi penyimpanan corong dalam permainan sehingga dapat maksimal dipergunakan
Pada pelaksanaan tindakan V, peneliti kembali menemukan permasalahan dalam kegiatan pembelajaran yaitu: 1. Masih banyaknya siswa yang tidak hadir yaitu 19 orang siswa, 2. Penempatan corong di tiap kelompok yang belum maksimal sehingga dapat menyulitkan siswa mencetak skor karena slalu bergeser, 3. Masih ada 1 kelompok yang kurang kreatif dalam melakukan permainan.
Terkait dengan permasalahan tersebut maka direfleksikan dengan cara: 1. Berlatih penyampaian materi sebelum pembelajaran dimulai, sehingga pada saat praktek dilaksanakan peneliti dapat menyampaikan materi dengan jelas dan tidak terputus – putus, 2.Mempersiapkan kelompok siswa yang bervariasi untuk mengantisipasi jika banyak siswa yang tidak hadir pada tindakan ke VI, 3.Memberikan gambaran pembelajaran dengan menggunakan gaya mengajar divergen kepada siswa pada saat kegiatan pendahuluan sehingga siswa terbiasa untuk lebih aktif dan kreatif dalam pembelajaran, 4. Mempertegas peraturan agar bahwa pembelajaran yang berlangsung tetap dihitung dalam absensi harian dan nilai – nilai yang didapat dari observasi akan diserahkan juga kepada guru penjaskes, 5. Menghimbau siswa agar mengajak rekannya untuk hadir dalam kegiatan pembelajaran, 6. Memberikan instruksi penyimpanan corong dalam permainan sehingga dapat maksimal dipergunakan.
F.     Pembahasan
1.      Pelaksanaan Gaya Mengajar Divergent
Dalam pelaksanaan penerapan gaya mengajar divergent pada pembelajaran aktivitas permainan sepakbola, peneliti melakukan beberapa tahapan agar dalam penerapan tersebut setidaknya memperoleh pemahaan minimal tentang gaya mengajar divergent, dan tahapan – tahapan yang dilakukan peneliti adalah sebagai berikut:
a.      Cara – cara memperoleh pemahaman  tentang gaya mengajar divergent
Pada tahapan  ini peneliti mencari berbagai sumber yang terkait dengan materi tentang gaya mengajar divergent, baik itu tentang definisi, sasaran gaya mengajar divergent, struktur dalam pembelajaran, tujuan, tugas – tugas guru, batasan dari seorang guru dalam gaya mengajar divergent, dan tugas – tugas siswa.
Hal – hal tersebut didapat peneliti dengan cara membaca buku dan skripsi yang terdapat materi tentang gaya mengajar divergent, mencari literature, dan mencari di Internet tentang segala hal yang menunjang terhadap gaya mengajar divergent. Selain itu peneliti juga membaca beberapa gaya mengajar lain i untuk dijadikan pembeda dan memperjelas perbedaan antara  gaya mengajar divergent dan gaya atau model pembelajaran tersebut. Selama penulisan skripsi ini peneliti juga berkonsultasi  mengenai  gaya  mengajar divergent dengan pembimbing 1 dan 2 yang lebih menguasai gaya mengajar tersebut, sehingga peneliti mendapatkan pengetahuan minimal tentang gaya mengajar divergent dan pada saat membuat perencanaan dan pelaksanaan peneliti tidak menerka – nerka apa itu gaya mengajar divergent dan cara penerapannya.    
b.      Perencanaan menerapkan gaya mengajar divergent dalam pembelajaran
Setelah peneliti mempelajari dan mencari pemahaman minimal tentang gaya mengajar divergent, selanjutnya peneliti kembali berkonsultasi dengan pembimbing 1 dan 2 untuk membuat perencanaan pembelajaran dengan menggunakan gaya mengajar divergent.
Dengan arahan pembimbing 1 dan 2 pertama – tama peneliti mempelajari PERMENDIKNAS (Peraturan Menteri Pendidikan Nasional) No. 22 Tahun 2006 yang mengenai SI (standar isi) dan No 23 tahun 2007 tentang SKL (Standar Kompetensi lulusan), mempelajari kurikulum KTSP tahun 2006 dan di dalam KTSP terdapat standar kompetensi oleh peneliti dijadikan dasar dalam pembuatan perencanaan. Setelah mengetahui SK maka peneliti mempelajari Permendiknas no 41 tahun 2007 tentang Standar Proses (SP) yang didalamnya terdapat tata cara penyusunan Silabus dan RPP.
Selanjutnya berdiskusi tentang KD dengan guru pamong di SMAN 1 Pangalengan dan kedua pembimbing skripsi tentang KD tersebut, dalam penyusunan RPP tersebut peneliti banyak mengalami kesulitan, seperti pembuatan langkah – langkah kegiatan inti dalam menentukan antara kegiatan guru dan kegiatan siswa dalam  gaya mengajar divergent,  membuat teknik evaluasi untuk tiap pertemuan, dan penentuan indicator tiap aspek yang sesuai dengan gaya mengajar divergent.
Dengan bimbingan dari pembimbing 1 dan 2  dapat menyelesaikan RPP aktivitas permainan  sepakbola dengan menggunakan gaya mengajar divergent, dimana RPP dengan gaya mengajar ini menekankan pada kreatifitas siswa dan kekatifan siswa dalam pembelajaran, dari kegiatan pendahuluan mulai dari pemanasan siswa dituntut untuk kreatif mencari model pemanasan yang diketahui. Pada kegiatan inti pada permainan siswa dituntut untuk kreatif mencari gerakan baik itu gerakan mengoper, membuka ruang, menggiring bola dan membantu rekan pembawa bola. Penekanan pada kreatifitas siswa tersebutlah yang membedakan antara RPP pembelajaran aktivitas permainan sepakbola dengan RPP yang menggunakan model atau gaya mengajar yang lainnya.
c.       Pelaksanaan penerapan gaya mengajar divergent
Setelah RPP dengan menggunakan gaya mengajar divergent dibuat, langkah selanjutnya adalah menerapkan RPP tersebut dalam  pembelajaran aktivitas permainan  sepakbola, pada pelaksanaan ini peneliti sendiri yang menjadi pengajar dan mencatat setiap hal yang terjadi dalam pembelajaran sedangkan  guru  pamong  menjadi  observer  yang bertugas mengobservasi peneliti saat pembelajaran berlangsung.
Saat pembelajaran berlangsung, banyak hal yang dialami peneliti diantaranya adalah:
1.      Beberapa kali peneliti hampir memberikan contoh gerakan pada siswa karena di dalam pembelajaran dengan menggunakan gaya mengajar divergent, guru tidak boleh memberikan contoh kepada siswa, dalam  gaya mengajar  ini siswa di tuntut untuk kreatif dalam mencari gerakan.
2.      Pada tindakan 1 dan 2 peneliti kurang kreatif  dalam memberikan pertanyaan elaborasi serta penyampaiannya yang kurang jelas sehingga siswa kurang kreatif dalam mencari pergerakan.
2.        Hasil Belajar Dalam Semua Dimensi
Setelah penerapan tindakan I sampai VI selesai peneliti mendapatkan hasil berupa catatan lapangan dan hasil belajar siswa dalam  aspek kognitif,  psikomotor,  afektif dan social., dipaparkan sebagai berikut:
-          Aspek Kognitif:
Tabel 4.1
Skor rata – rata aspek kognitif pada tiap tindakan
Indikator
Tindakan Ke
Rata - rata
I
II
III
IV
V
VI
1.
6
6
7
8
8
8
7,16
2.
6
6.5
7
7
7.5
8
7
3.
6.5
6.66
7
8
7.5
8.4
7,34
4.
6.5
6.66
6.5
7.33
8
9
7,33
Rata - rata
6.25
6.45
6.87
7.58
7.75
8.35
7,2

Dari tabel di atas, pada tindakan I skor rata – rata siswa dari tiap indicator  yang dilakukan dengan cara random  adalah 6,25, pada tindakan ke II nilai siswa mengalami peningkatan menjadi 6,45. Pada tindakan ke III kembali terjadi peningkatan menjadi 6.87. pada tindakan IV juga mengalami peningkatan menjadi 7.58. pada tindakan V skor siswa juga mengalami peningkatan menjadi 7.75 dan pada tindakan ke VI skor siswa mengalami peningkatan menjadi 8.35.
-          Aspek Psikomotor
Tabel 4.2
Skor rata – rata aspek psikomotor pada tiap tindakan
Indikator
Tindakan Ke
Rata - rata
I
II
III
IV
V
VI
1.
6.76
6.88
7.25
7.88
7.96
7.93
7.44
2.
6.66
6.91
7.03
8.12
7.7
8.1
7.42
3.
6.76
6.97
7.1
8.08
7.59
8.1
7.43
4.
5.84
6.67
7.23
8.15
7.81
8.07
7.29
Rata - rata
6.5
6.85
7.15
8.05
7.7
8.05
7.38

Dari tabel di atas, pada tindakan I skor rata – rata siswa dari tiap indikator yang dilakukan dengan  teknik observasi adalah 6,5, pada tindakan ke II nilai siswa mengalami peningkatan menjadi 6,85. Pada tindakan ke III kembali terjadi peningkatan menjadi 7.15. pada tindakan IV juga mengalami peningkatan menjadi 8.05. pada tindakan V skor siswa mengalami penurunann menjadi 7.7 dan pada tindakan ke VI skor siswa mengalami peningkatan kembali menjadi 8.05.
-          Aspek Afektif dan Sosial
Tabel 4.3
Skor  rata – rata aspek Afektif dan sosial pada tiap tindakan
Indikator
Tindakan Ke
Rata - rata
I
II
III
IV
V
VI
1.
6.32
8.91
9.63
10
10
10
9.14
2.
10
8.59
9.76
10
9.83
10
9.69
3.
10
9.06
9.87
10
10
10
9.82
4.
7.11
8.59
10
10
10
10
9.28
5
10
8.91
9.63
9.29
9.66
10
9.58
Rata - rata
8.68
8.81
9.78
9.85
9.89
10
9.50

Dari tabel di atas, pada tindakan I skor rata – rata siswa dari tiap indikator yang dilakukan dengan teknik observasi adalah 8.68, pada tindakan ke II nilai siswa mengalami peningkatan menjadi 8.81. Pada tindakan ke III kembali terjadi peningkatan menjadi 9.78. pada tindakan IV juga mengalami peningkatan menjadi 9.85. pada tindakan V skor siswa mengalami peningkatan kembali menjadi 9.89 dan pada tindakan ke VI skor siswa mengalami peningkatan kembali menjadi 10.
Dari uraian penskoran di atas, terdapat peningkatan kreatifitas siswa dalam kegiatan  pembelajaran aktifitas permainan sepakbola di SMAN 1 Pangalengan dengan menggunakan gaya mengajar divergent, karena dari peningkatan tersebut berdasarkan pada teknik penskoran tiap indicator, baik itu kognitif, psikomotor, afektif dan social semakin tinggi nilai siswa berarti semakin banyak jawaban, gerakan dan perilaku siswa yang bervariatif, berdasar  pada indicator dalam RPP. Untuk penjelasan lebih jelas tentang system penskoran dapat di lihat pada RPP lampiran 4,1.

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

A.    KESIMPULAN
Berdasarkan hasil dan masalah penelitian yang telah dirumuskan, maka peneliti menyimpulkan bahwa:
1.      Pelaksanaan Gaya Mengajar Divergent dan Pendekatan Taktis dalam Pembelajaran Aktivitas Permainan Sepakbola
Pertama peneliti berusaha untuk mengetahui apa itu gaya mengajar divergent dan karakteristiknya. Kedua, peneliti mempelajari pendekatan taktis untuk menunjang penerapan gaya mengajar divergent. Ketiga, peneliti mengkaji apa itu permainan sepakbola dan hakikat pembelajaran penjas di sekolah. Semua teori – teori tersebut dikaji dengan cara membaca buku, mencari sumber dari internet dan berkonsultasi dengan pembimbing skripsi yang telah menguasai semua hal tersebut.
Setelah peneliti mempelajari hal tersebut di atas, dilaksanakan pembuatan perencanaan pembelajaran yang secara terus menerus diperbaiki. Pada awal pelaksanaan dalam membuat perencanaan dan pelaksanaan perencanaan tersebut, terdapat beberapa kendala yang perlu diperbaiki seperti penyampaian karakteristik gaya mengajar yang kurang baik dari peneliti, penyampaian pertanyaan elaborasi yang kurang jelas, formasi pembelajaran yang kurang baik dan kurang tegasnya peraturan yang diberikan yang mengakibatkan siswa kebingungan, kurang aktif dan kreatif dalam pembelajaran.
Usaha perbaikan untuk kendala di atas, dilakukan dengan cara merefleksikan pembelajaran juga dicari solusi pemecahannya melalui proses konsultasi dengan para pembimbing.
Melalui usaha perbaikan dalam bentuk dokumen pelaksanaan maupun pelaksanaan tindakan yang secara terus menerus, selama 6 kali pertemuan gaya mengajar divergent dapat diterapkan dalam pembelajaran aktivitas permainan sepakbola di SMAN 1 Pangalengan.
Meskipun sudah dapat diterapkan, peneliti menyadari ketidak sempurnaan dalam pelaksanaan penelitian, karena keterbatasan waktu dan sering berubahnya kondisi pembelajaran, namun dengan usaha dan niat untuk menerapkan gaya mengajar divergent, gaya tersebut dapat diterapkan
2.        Hasil Belajar
Merujuk pada hakikat gaya mengajar divergent yang menekankan pada kreativitas siswa pada tiap aspek, baik itu aspek kognitif, psikomotor, afektif dan sosial, respons siswa menunjukan perubahan – perubahan positif pada tiap tindakan.  
Pertama pada aspek kognitif, pada tindakan I sampai VI konsistensi kreativitas yang ditunjukan siswa berkembang dengan baik dalam hal menyebutkan jawaban yang bervariasi dan sesuai dengan indicator yang telah ditentukan.
 Kedua pada aspek psikomotor, pada tindakan I sampai VI konsistensi kreativitas yang ditunjukan siswa juga berkembang dengan baik dalam hal mempraktikan gerakan mengoper, mengontrol, menendang dan mendukung rekan pembawa bola yang bervariasi dan sesuai dengan indicator.
 Ketiga pada aspek afektif dan social, pada tindakan I sampai VI siswa mengalami perkembangan dan semakin dapat terkontrol dan sesuai dengan indikator yang telah ditentukan dalam hal perilaku siswa saat pembelajaran, yaitu kerja sama, keberanian, menghargai lawan dan kawan, bertanya, berbagi tempat dan peralatan.
B.     SARAN
Berdasarkan hasil dari kesimpulan di atas yang telah dikemukakan oleh peneliti, ada hal yang dapat disampaikan sebagai saran atau masukan yaitu, Sebagai berikut: 
Meskipun gaya divergent ini mungkin belum diketahui oleh guru namun dengan itikad atau niat untuk melaksanakan gaya mengajar ini, peneliti yakin guru – guru pendidikan jasmani yang pernah belajar tentang berbagai gaya mengajar dapat menerapkan gaya mengajar divergent ini.



3 komentar:

  1. bg, boleh liat angketpembuatannya bg? kirimkan ke email saia yah bg sukasukaulan@yahoo.co.id

    BalasHapus
  2. oiya 1 lagi kalo ada daftar pustakanya juga yah bg :)

    BalasHapus
  3. owh PTK tidak pake angket tapi observasi secara langsung lewat catatan

    BalasHapus